Tumbuh di Era Perubahan Iklim, Debu dan Asap Kendaraan Ancam Kesehatan Anak

POTRET: Sejumlah anak sedang menikmati waktu sore di daerah permukiman RT 06 RW 16 Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Semarang Utara, Rabu (23/8/2023). (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

TERIKNYA matahari di musim kemarau ini kian dirasakan warga di berbagai daerah, tak terkecuali Kota Semarang. Lebih-lebih bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir.

Pada Rabu (23/8/2023) lalu, wartawan Joglo Jateng mengunjungi salah satu kampung di Tambakrejo, Tanjungmas, Semarang Utara. Terlihat sejumlah anak tengah asyik bermain di halaman Masjid Al Firdaus.

Sore hari selepas mengaji menjadi waktu yang asyik bagi mereka untuk bermain, berkumpul dengan teman-teman. Tak menghiraukan udara yang panas, anak-anak asyik bermain sepak bola, petak umpet. Beberapa anak lainnya memilih untuk menikmati jajanan di halaman rumah dekat masjid sambil bercengkerama.

Aktivitas semacam ini banyak dilakukan oleh anak-anak di kampung-kampung lainnya. Memang, itulah yang mereka butuhkan. Bermain dan bersosialisasi dengan sesama anak.

Namun ada hal lain yang sulit dilihat langsung dari mata kami. Anak-anak di Tambakrejo terpaksa harus menghirup udara yang bercampur dengan debu kecil yang kian beterbangan saat mereka berlarian atau menendang bola.

Tak sedikit dari mereka merasakan batuk setelah menghirup debu cukup lama di tanah yang mereka pijaki. Diketahui, itulah yang setiap hari mereka alami selama menjalani aktivitas di wilayah pesisir itu akhir-akhir ini.

Rini Hidayati, dkk dalam jurnal yang berjudul ‘Analisis Kejadian Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Berdasarkan Kondisi Iklim dan Konsentrasi PM10 di Wilayah Jakarta Barat’ menyebut, salah satu penyakit akibat tingginya konsentrasi debu adalah ISPA.

Sementara itu, Lisna Sari, dkk. dalam jurnalnya ‘Faktor-Faktor yang Menjelaskan  Prevalensi Anak Pengidap ISPA di Indonesia’ mengungkapkan, ISPA  merupakan  jenis  penyakit  yang  masih menjadi  penyebab  utama  kesakitan  dan  kematian  pada  anak. Terutama di negara berkembang.

Ketua RT 06 RW 16 Tambakrejo, Rohmadi mengatakan, selama musim kemarau berkepanjangan, beberapa di antara warganya, terutama anak-anak mengeluhkan gejala penyakit gangguan pernafasan akut ini.

Selain ISPA, mayoritas warga khususnya anak-anak mulai memiliki keluhan lainnya seperti mata merah dan gatal-gatal kulit yang tak kunjung sembuh.

Menurut Rohmadi, hal ini terjadi sejak adanya proyek tanggul laut yang berada dekat dengan permukiman warga, sekitar 300 meter.

“Kalau tidak salah proyek pembangunan tanggul laut mulai dikerjakan awal tahun Desember 2022 lalu. Soal kualitas udara disini sih segar tapi karena proyek itu debu banyak sekali bertebaran. Mungkin juga sudah lama tidak hujan,” ungkapnya.

SUASANA: Lingkungan RT 06 RW 16 Tambakrejo, Rabu (23/8/2023).

Di kampungnya ada sekitar 103 Kartu Keluarga (KK), atau setara dengan 400 jiwa yang tinggal di daerah pesisir tersebut. Sedangkan rata-rata anak yang terpapar penyakit ISPA berada di usia 10 hingga 11 tahun.

“Sekitar ada 5 anak yang masih terpapar ISPA. Kalau ditanya faktornya mungkin bisa karena makanan, atau kurang minum vitamin,” jelasnya.

Baca juga:  Melly Pangestu Daftar Bakal Calon Wakil Wali Kota ke DPP

Pemenuhan nutrisi bagi mereka memang terbilang kurang sempurna. Cara yang sering dilakukan oleh warga Tambakrejo jika anaknya terkena penyakit ISPA, kata Rohmadi, biasanya diobati ala kadarnya saja. Para orang tua membeli obat di warung atau memeriksakan anaknya ke Puskesmas terdekat.

“Kalau penyakitnya sudah akut maka dilarikan ke rumah sakit. Kemarin ada satu orang masuk RS dan sembuh selama tiga hari. Dari bentuk penyakitnya sih itu soal pernafasan,” katanya.

Mengetahui banyaknya debu yang beterbangan di lingkungan mereka, kata Rohmadi, para orang tua juga memberikan nasihat kepada anaknya agar mengenakan masker saat bermain di luar rumah. Namun karena merasa kurang nyaman, anak-anak memilih untuk mengabaikan nasihat itu.

Di sisi lain, Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas Gayamsari, Yuni Susanti mengonfirmasikan, saat ini jumlah pasien yang mengalami ISPA cenderung naik.

Bahkan, pihaknya harus memesan paracetamol sebanyak dua kali lebih banyak dari biasanya untuk mengatasi penyakit tersebut.

“Kebanyakan keluhannya karena cuaca panas. Untuk pasien yang sering periksa itu biasanya anak-anak sampai remaja yang usianya produktif. Per hari bisa belasan orang yang menderita gangguan pernapasan,” tuturnya.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas Gayamsari, Yuni Susanti mengonfirmasikan, saat ini jumlah pasien yang mengalami ISPA cenderung naik.

Bahkan, pihaknya harus memesan paracetamol sebanyak dua kali lebih banyak dari biasanya untuk mengatasi penyakit tersebut.

“Kebanyakan keluhannya karena cuaca panas. Untuk pasien yang sering periksa itu biasanya anak-anak sampai remaja yang usianya produktif. Per hari bisa belasan orang yang menderita gangguan pernapasan,” tuturnya.

Kenaikan Kasus Pneumonia Berat

Banyaknya gangguan pernapasan yang dialami anak-anak tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebab, ISPA yang berlarut-larut akan berlanjut menjadi pneumonia. Hal tersebut diungkapkan oleh dr. Shinta Riana., SpA dalam artikelnya di laman herminahospitals.com. Ia menjelaskan, pneumonia merupakan infeksi akut yang menyerang saluran pernapasan bagian bawah atau disebut radang paru-paru.

Mia Nurnajiah, dkk. dalam jurnal ‘Hubungan Status Gizi dengan Derajat Pneumonia pada Balita di RS. Dr. M. Djamil Padang’ mengungkapkan, pneumonia menjadi penyebab kematian utama pada balita di dunia, terutama di negara berkembang.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang pada 2022, terdapat 80.604 kasus balita dengan keluhan batuk atau kesukaran bernapas ke Puskesmas Kota Semarang. Angka ini mengalami kenaikan dibanding tahun 2021 yaitu sebanyak 38.120 kasus.

Lalu, terdapat 4.203 penderita pneumonia balita dimana 92 di antaranya adalah pneumonia berat. Angka ini mengalami kenaikan pada jumlah total pneumonia balita sebanyak 2817 jiwa di tahun 2021, dan mengalami kenaikan pada jumlah kasus pneumonia berat dari 84 menjadi 92 kasus atau 9,52 persen.

Baca juga:  Pemkot Semarang Diminta Konsolidasi Pengadaan Khusus Barang dan Jasa

Dampak Perubahan Iklim Terhadap Anak

Menurut laporan UNICEF (United Nations Children’s Fund), anak muda di Indonesia adalah salah satu kelompok di dunia yang menghadapi risiko dampak perubahan iklim yang tinggi. Kondisi ini dapat mengancam kesehatan, pendidikan, dan perlindungan mereka.

Sementara itu, Daniel dan Darrel dalam jurnalnya yang berjudul ‘Effect of Climate Change on Air Quality’ menyebut, kualitas udara sangat bergantung pada cuaca. Sehingga sensitif terhadap perubahan iklim.

Buruknya kualitas udara dapat menimbulkan masalah pada pernafasan manusia. Dokter Spesialis Paru RSUD Tugurejo sekaligus Wakil Direktur Pelayanan Provinsi Jawa Tengah, dr. Prihatin Iman Nugroho, M.Kes, Sp.P menjelaskan, salah satu fungsi dari saluran pernapasan adalah sebagai barier terhadap benda asing yang masuk pada saluran pernapasan. Termasuk bakteri atau virus.

Ia menjelaskan, ISPA disebabkan oleh adanya virus atau bakteri pada saluran pernafasan. Ketika saluran pernafasan tidak mengalami ketidakmampuan dalam memfilter udara, maka hal tersebut bisa menyebabkan seseorang terserang ISPA.

“Kalau kondisi di lapangan banyak temukan terkait gangguan saluran pernapasan ada data secara umum ISPA ini termasuk dalam 10 kasus terbanyak di fasilitas kesehatan. Karena proses lewat udara terlebih lagi di daerah permukiman yang diketahui akan cepat berlangsungnya. Baik dokter umum, dokter paru, penyakit dalam saat ini kami menemui banyak. Hanya saja sejauh ini masih kategori ringan yang tidak menimbulkan komplikasi,” tuturnya.

Meski dampak serius dari maraknya polusi udara ini belum banyak diraskan oleh masyarakat, namun efek jangka panjang yang mungkin saja timbul tidak bisa dianggap ringan.

Menurut artikel yang diterbitkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, paparan polusi udara dalam jangka panjang memiliki keterkaitan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi (hipertensi).

Orang dewasa dalam kelompok usia sama yang tinggal di area dengan tingkat polusi tinggi lebih rentan terkena tekanan darah tinggi dibandingkan mereka yang tinggal di daerah dengan polusi minim.

Disebutkan, tiap lima mikrogram per meter kubik (5 μg/m3) PM 2,5 risiko hipertensi meningkat hingga 22 persen pada orang yang tinggal di area tinggi polusi dibandingkan dengan yang tinggal di area minim polusi.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kota Semarang menyebutkan bahwa kualitas udara di Kota Atlas rata-rata berada dalam kategori kuning hingga oranye atau tidak sehat. Sehingga masyarakat harus berhati-hati beraktivitas di luar, terutama kelompok sensitif.

Baca juga:  Solusi untuk Vita: Disdikbud Jateng Carikan Sekolah dan Upayakan Beasiswa

“Kelompok sensitif; anak kecil, orang tua, orang yang punya riwayat penyakit asma, sakit paru disarankan kalau bepergian di luar pakai masker,” kata Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam.

Mengacu data laman iqair.com, kualitas udara tingkat oranye terlihat pada Jumat (25/8) dengan nilai 142 AQI (indeks kualitas udara), Sabtu (26/8) dengan 120 AQI, kemudian Minggu (27/8) mulai kuning dengan 100 AQI, dan Senin 88 AQI.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Konservasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Safrinal Sofaniadi menyebut, polusi udara didominasi gas buang kendaraan.

“Yang menyebabkan polusi itu paling banyak gas buang dari kendaraan,” jelasnya, Jumat (1/9/2023).

Dia memperkirakan, dari total polusi udara di Kota Semarang, 80 persen didominasi oleh gas buang kendaraan dan selebihnya dipengaruhi oleh variabel yang lain.

“Yang mendominasi saat ini kendaraan. Bisa dibilang 80 persen kendaraan,” kata dia.

***

KEPEDULIAN TERHADAP lingkungan di pinggiran Kota Semarang ditunjukkan oleh ratusan pemuda yang pada Sabtu (2/9/2023) lalu melakukan pembersihan sampah di muara Banjir Kanal Timur (BKT) ke area pesisir Kampung Nelayan Tambakrejo.

PEDULI: Para volunteer tengah membersihkan sampah area pesisir Kampung Nelayan Tambakrejo, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara, Sabtu (2/9/2023).

Tumpukan sampah yang berhasil dikumpulkan mencapai 12,6 ton. Sampah-sampah itu sebelumnya terlihat telah mengapung diatas air cukup lama.

“Tadi kita sempat temukan kasur, bantal, dan ada beberapa limbah rumah tangga lainnya,” jelas salah satu anggota Pandawara Grup, Gilang Rahma.

Daerah yang menjadi langganan dampak rob ini tak luput dari perhatian berbagai pihak. Bukan hanya pada masalah sampah yang menumpuk, sebagian area perkampungan di Tambakrejo kini sudah tergenang air laut.

KONDISI: Bekas rumah warga di salah satu kampung di Tambakrejo yang sudah terendam air laut.

Pembangunan tanggul laut pun digadang-gadang akan menyelesaikan persoalan rob. Plt Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang, Suwarto mengukapkan bahwa proyek tanggul laut tersebut sedang dikerjakan oleh pihak Kementerian PUPR RI, dan hingga bulan kemarin progres pengerjaannya telah mencapai 53 persen.

“Yang masih kurang itu segmen progres untuk bagian barat dan timur,” ungkapnya.

DALAM PROSES: Alat berat yang difungsikan untuk membangun tanggul laut.

Proyek tersebut ditargetkan akan selesai akhir tahun ini, sehingga mampu mengatasi persoalan rob yang bertahun-tahun dialami warga disana.

Di sisi lain, permasalahan sosial yang sulit dihindari dengan padatnya penduduk juga memerlukan perhatian, khususnya dari dinas kesehatan.

Peran dinas kesehatan, kata dr. Prihatin, yakni mendorong masyarakat untuk aware terhadap kondisi anak-anak, untuk memastikan mereka mendapatkan hak jaminan kesehatan.

“Kita harapkan yang mengganggu seperti pilek, batuk, demam sebenarnya bisa segera ditanggulangi dengan fasilitas primer terdekat sehingga tidak menimbulkan komplikasi lebih lanjut,” ungkapnya. (cr7/mg4)

Artikel ini diperbarui pada tanggal 15 September 2023.