Kesadaran Pajak Masuk Kurikulum Sekolah di Jateng Mulai Tahun Ajaran 2024/2025

Kepala Disdikbud Jawa Tengah Uswatun Hasanah
Kepala Disdikbud Jawa Tengah Uswatun Hasanah. (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah mengaku bakal memasukkan materi inklusi kesadaran pajak di kurikulum satuan pendidikan. Hal itu berlaku pada tahun ajaran baru 2024/2025 mendatang.

Kepala Disdikbud Jawa Tengah Uswatun Hasanah mengatakan bahwa sebelumnya pihaknya telah melakukan audiensi bersama Kanwil DJP Jawa Tengah I dan II. Adapun berdasarkan hasil audiensi tersebut, DJP Jateng meminta agar inklusi kesadaran pajak tidak hanya dilakukan melalui sosialisasi ke sekolah-sekolah. Melainkan dimasukkan dalam materi pembelajaran di kurikulum. Pihaknya pun menyambut baik hal itu.

Selamat Idulfitri 2024

“Iya, inklusi perpajakan nanti akan ada rencana dari hasil rapat pertama, dimasukkan dalam mata pelajaran tertentu,” jelas Uswatun saat dikonfirmasi Joglo Jateng, Senin (4/3/24).

Baca juga:  Baznas RI Anggarkan Rp 5 M untuk Korban Banjir Semarang

Uswatun mengatakan, pembahasan ini masih tahap pembahasan. Dirinya pun memberikan satu contoh ketika inklusi kesadaran pajak ini masuk di mapel Bahasa Indonesia, hal ini harus dipikirkan bagaimana kegiatan pembelajaran yang pas bagi peserta didik.

Kemudian hasilnya berupa penugasan, portofolio, projek, ataupun yang lainnya. Tahap ini nantinya akan diserahkan pada guru masing-masing.

“Jadi materi tentang kesadaran pajak masuk di kurikulum satuan pendidikan, hanya pada mapel tertentu dan itu maksimal 2 jam pembelajaran hanya satu kali,” imbuhnya.

Uswatun mengaku pendidikan berkaitan dengan kesadaran dalam membayar pajak patut diberikan sedini mungkin. Harapannya ke depan bisa menjadi karakter bagi peserta didik menjadi warga negara yang taat pajak.

Baca juga:  Penyakit Gatal-gatal Paling Banyak Dikeluhkan Masyarakat Terdampak Banjir

“Nanti kita harapkan menjadi karakter bahwa pajak itu adalah kewajiban kita, jadi ada kesadaran ke sana. Tidak perlu paksaan,” tandasnya. (luk/gih)