Produksi Ikan Konsumsi di Sleman Capai 55 Ribu Ton

MENYEROK: Kepala DP3 Sleman Suparmono (tengah) saat panen ikan nila di Pokdakan Mina Djoeragan Empang, Tegalan, Sidomoyo, Godean, belum lama ini. (ADIT BAMBANG SETYAWAN/JOGLO JOGJA)

SLEMAN, Joglo Jogja – Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman mengungkap prospek budidaya ikan konsumsi di wilayah Bumi Sembada dinilai masih cukup bagus. Realisasi hasil produksi ikan konsumsi di tahun 2023 mencapai 55.045,57 ton.

Kepala DP3 Sleman Suparmono memperkirakan, jumlah tersebut terus meningkat di 2024 dan menyentuh angka 55.253,98 ton. Dengan jumlah itu, aman cukup untuk memenuhi kebutuhan ikan konsumsi di Sleman.

Selamat Idulfitri 2024

“Kebutuhan ikan konsumsi di Sleman sebesar 40.854,91 ton. Adapun tingkat konsumsinya tercatat di angka 37,21 kilogram/kapita per tahun. Dengan begitu, jumlah produksi yang ada saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar,” katanya.

Tingginya produktivitas ikan di Sleman tersebut tidak lepas dari penerapan teknologi saat proses budidaya. Satu di antaranya menggunakan kincir air di lokasi kolam budidaya atau dikenal dengan istilah Sibudi Dikucir. Penerapan teknologi itu dinilai mampu meningkatkan produktivitas kolam budidaya ikan.

Baca juga:  Lima Sekolah di Bantul Miliki Kelas Khusus Olahraga, Ini Daftarnya

“Peningkatan produktivitas dicapai dengan penambahan kincir yang mengaduk dan merotasi air di kolam. Pengadukan dan rotasi air kolam menjadikan kualitas air kolam mampu mendukung pertumbuhan ikan. Meskipun ditebar dengan kepadatan tinggi,” jelasnya.

Rata-rata padat tebar budidaya ikan sistem Sibudi Dikucir adalah 40 ekor per meter persegi, dengan ukuran ikan 50 ekor per kg atau sekitar 20 gram ketika tebar. Melalui padat tebar seperti itu, maka panen dikalkulasi bisa mencapai 8-10 kg per meter persegi lahan kolam.

“Sistem kerja Sibudi Dikucir cukup sederhana. Agar dapat meningkatkan produktivitas, maka kolam ditambah penggunaan kincir. Kincir secara teknis akan berpengaruh kepada difusi oksigen yang masuk ke dalam air, menguapkan gas beracun lewat percikan air ke udara, berkurangnya amoniak yang sering muncul di kolam budidaya,” paparnya.

Baca juga:  Antisipasi Ancaman Hukum Pengelolaan Dana Sekolah: Disdikpora Bantul Gandeng Kejari

Kondisi ideal itu, menjadi sebab carrying capacity atau kemampuan memproduksi per satuan luas menjadi meningkat, atau dengan kata lain produktivitas meningkat. Penggunaan kincir menjadi kunci sukses menciptakan kondisi air yang secara kualitas mampu mendukung tingkat kehidupan ikan, meningkatkan daya tumbuh, dan mencapai ikan yang gemuk padat daging.

Aksi yang dilakukan berupa percontohan budidaya menyebar ikan di wilayah Kabupaten Sleman. Salah satunya di Pokdakan Mina Djoeragan Empang, Tegalan, Sidomoyo, Godean. Percontohan itu, menggunakan dana ABT atau Anggaran Belanja Tambahan Inflasi tahun 2023 berupa sarana prasarana Benih nila 109 kg, pakan pelet 41 zak, kincir 1 PK satu unit dan genset.

Baca juga:  Dirjen Dukcapil Apresiasi Layanan Kependudukan di Yogyakarta

“Panen ikan menjadi asyik ketika hasil yang diharapkan bisa sesuai dengan ekspektasi. Produksi ikan hasil percontohan budidaya Sibudi Dikucir di Tegalan Godean menjadi pengungkit produktivitas perikanan di Kabupaten Sleman. Rerata produksi dengan FCR mendekati angka 1,2. Ini merupakan pencapaian yang bagus pada saat iklim terpengaruh El Nino,” tandasnya. (bam/abd)