43 Warga DIY Terindikasi Antraks

SEHAT: Seorang warga sedang mengecek sapi peliharaan di kandang Mulungan Kulon, belum lama ini. (ADIT BAMBANG SETYAWAN/JOGLO JOGJA)

YOGYAKARTA, Joglo Jogja – Kasus Antraks mulai menyita perhatian di beberapa wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Kabupaten Gunungkidul, 17 warga diduga mengalami infeksi antraks. Sementara di Kabupaten Sleman, 26 warga yang terindikasi antraks sudah mendapatkan penanganan.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawaty menyatakan, dari 17 individu di wilayah tersebut diduga mengalami infeksi antraks, dua di antaranya mengalami kondisi yang serius dan memerlukan perawatan di fasilitas kesehatan. “Kami telah mengirimkan 53 sampel darah untuk diperiksa di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta,” ungkapnya.

Selamat Idulfitri 2024

Sebelumnya, diberitakan bahwa hasil uji laboratorium atas sampel darah sapi yang mati secara tiba-tiba di Dusun Kayoman, Kalurahan Serut, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, telah menegaskan keberadaan antraks. “Kami telah mengambil tindakan untuk mengurangi penyebaran bakteri antraks, termasuk memberikan antibiotik kepada individu yang terinfeksi,” terangnya.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman berkomitmen mencegah penyebaran antraks di Bumi Sembada. Upaya penelusuran terkait dengan daging yang dikonsumsi pun dilakukan. Bahkan, upaya pencegahan juga dilakukan dengan membuat surat edaran tentang kewaspadaan penyakit.

Baca juga:  Siap Hadapi Pemudik, Pemkab Sleman Kebut Perbaikan Jalan

Bupati Sleman membenarkan adanya warga Sleman yang terindikasi antraks. Namun, warga yang terindikasi sudah ditangani dan dilakukan pengetesan, di mana saat ini masih menunggu hasil lab yang  keluar.

Upaya penanganan tidak hanya memberikan pengobatan kepada warga yang terindikasi suspek antraks. Pasalnya, hasil dari penelusuran tim Kesehatan, BPBD bersama dengan Brimob telah menemukan daging sisa brandu.

“Total ada sembilan keluarga yang memiliki daging tersebut. Upaya penyitaan pun dilakukan kemudian dimusnahkan dengan cara dibakar kemudian ditimbun tanah dan dicor. Daging yang masih disimpan dikeluarkan semua untuk dimusnahkan. Tujuannya agar tidak terkontaminasi,” katanya, Rabu (13/3/24).

Meski masih ada warga suspek antraks, ia memastikan kondisi sekarang sudah aman terkendali. Oleh karena itu, Masyarakat tetap diminta tidak panik karena upaya pencegahan dan penanggulangan terus dilakukan. Bahkan, ternak milik warga juga sudah diberikan suntikan antibiotik.

Baca juga:  Antisipasi Uang Palsu, Polisi Awasi Penjual Jasa Pinggir Jalan

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman, Suparmono menambahkan, sudah memiliki kronologi terkait dengan dugaan penyebaran antraks di perbatasan Sleman-Gunungkidul. Pencegahan sudah dilakukan beberapa penindakan seperti pengambilan sisa daging Brandu untuk dimusnahkan.

“Untuk prosesnya kami tidak melakukan sendiri karena ada kerja sama dengan tim gabungan dan melibatkan tim Gegana Polda DIY. Untuk memastikan kasus juga sudah diambil sampel guna pengujian di Balai Besar Veteriner Wates,” tuturnya.

Selain itu, juga dilaksanakan sosialisasi dan edukasi berkaitan dengan bahaya antraks kepada warga di Padukuhan Kalinongko Kidul. Penyemprotan cairan disinfektan juga sudah dilakukan di sekitar lokasi temuan kasus.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Sleman Khamidah Yuliati mengatakan, pihaknya telah mengeluarkan edaran tentang kewaspadaan penyakit antraks ke fasilitas kesehatan di Bumi Sembada. Kebijakan ini diterbitkan sebagai dampak munculnya suspek antraks di Padukuhan Kalinongko Kidul, Gayamharjo, Prambanan.

Baca juga:  Hebat! 13 Perpustakaan Sekolah di Bantul Berhasil Raih Akreditasi A

“Kepastian kasus antraks masih menunggu hasil uji laboratorium. Meski begitu, upaya pencegahan harus tetap dilaksanakan. Surat sudah disebarkan ke seluruh fasilitas Kesehatan, agar mereka ikut waspada pada saat ada pasien yang dilayani mirip kasus antraks,” terangnya.

Menurutnya, ada beberapa kewaspadaan yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya potensi penyebaran yang lebih luas. Sebagai contoh, untuk puskesmas diminta meningkatkan surveilans aktif guna menemukan kasus tambahan di Masyarakat.

“Mereka juga harus melakukan mitigasi dan penanggulangan yang melibatkan forum lintas sektor. Yang tak kalah penting terus mempromosikan Kesehatan berkaitan dengan pencegahan antraks seperti makan daging yang sehat, tidak menyembelih hewan yang sakit atau melaporkan adanya hewan sakit ke petugas,” terangnya.

Untuk penanganan, setiap puskesmas juga sudah dilengkapi dengan obat-obatan. Oleh karenanya, pada saat terjadi ada pasien suspek antraks dapat segera ditangani melalui pengobatan profilaksis. “Kami juga meminta adanya laporan berjenjang pada saat ada temuan kasus,” tandanya. (suf/bam/abd)