Brandu Jadi Faktor Masyarakat Terjangkit Antraks

Kepala Dinkes Kota Yogyakarta Emma Rahmi Aryani
Kepala Dinkes Kota Yogyakarta Emma Rahmi Aryani. (RIZKY ADRI KURNIADHANI/JOGLO JOGJA)

KOTA, Joglo Jogja – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mengimbau masyarakat agar waspada atas munculnya penyakit antraks, salah satu Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) yang bersifat Zoonosis. Penyakit tersebut dapat menular dari hewan kepada manusia atau sebaliknya yang disebabkan oleh bakteri Bacillus Anthracis. Dikatakan bahwa budaya brandu menjadi faktor maraknya masyarakat terjangkit antraks. Brandu adalah memotong atau menyembelih hewan ternak yang sakit.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Emma Rahmi Aryani menyebut, penanganan antraks tak cukup dengan obat dan vaksin. Faktor yang menjadi pertimbangan adalah budaya brandu yang berkembang dalam masyarakat.

Selamat Idulfitri 2024

“Kebiasaan dari wilayah apabila ada ternak yang mati atau tiba-tiba mati atau sakit, kemudian disembelih untuk mengurangi kerugian pemilik ternak. Daging lalu dibagikan sukarela atau memberi ganti,” ungkapnya.

Baca juga:  Belum Semua UMKM di Sleman Bersertifikat Halal

Dijelaskan, gejala antraks pada hewan yakni adanya luka lokal pada lidah dan tenggorokan. Hal itu mengakibatkan pembengkakan yang menyebabkan kematian karena sesak napas. Sedangkan gejala antraks pada manusia berupa luka kecil berwarna merah, berkembang menjadi luka kecil, kemudian menjadi ulser hitam dan kering dikelilingi dengan edema.

“Gejala lainnya adalah sakit kepala, demam, nyeri pada daerah sekitar luka. Ulser dapat sembuh dalam waktu 2-3 minggu,” ungkapnya.

Saat ini, terdapat beberapa wilayah di DIY yang terdapat antraks. Antara lain di Gunungkidul terdapat kasus penyakit ini pada 2019, 2020, 2022, 2023 dan 2024. Kemudian Sleman pada tahun 2003 dan 2024. Sedangkan Kulon Progo, wabah penyakit ini terjadi pada 2017 silam.

Baca juga:  Dirjen Dukcapil Apresiasi Layanan Kependudukan di Yogyakarta

“Kota Yogyakarta sampai saat ini belum ada temuan kasus antraks. Meski begitu, kita harus tetap waspada karena bisa masuk melalui arus lalu lintas ternak dan produk ternak,” pungkasnya. (riz/abd)