Marak Isu Antraks tak Pengaruhi Penjualan Daging

TRANSAKSI: Salah satu konsumen saat membeli daging di Pasar Bantul, belum lama ini. (JANIKA IRAWAN/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Beberapa waktu belakangan, marak isu penyakit antraks yang menyerang hewan ternak kambing dan sapi di Gunungkidul dan Sleman. Meski begitu, penjualan daging sapi di Pasar Bantul tidak terpengaruh, serta daya beli masyarakat dan penjualan disebut masih stabil.

Pedagang daging sapi di Pasar Bantul, Diah (37) menyampaikan, dirinya juga mengetahui isu antraks yang menyerang hewan ternak di Gunungkidul dan Sleman belakangan ini. Namun, hal itu tidak memberikan dampak pada penurunan penjualan.

Selamat Idulfitri 2024

Alhamdulillah meskipun marak beredar isu antraks, tapi di sini tidak berpengaruh pada penjualan. Karena biasanya, kalau daging sudah tidak layak itu nggak dikasih sama rumah potong,” ungkapnya, Senin (18/3/24).

Baca juga:  Pemkab Sleman Dorong Perluasan Percepatan Penurunan Stunting

Bahkan, Diah mengungkapkan, dalam sepekan bulan Ramadan ini malah sebaliknya, justru memberikan dampak positif bagi dagangannya. Terjadi peningkatan penjualan yang melebihi dari hari-hari biasa. Menurutnya, hal ini dikarenakan adanya kebutuhan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan menu berbuka puasa atau takjil.

“Penjualan saat ini meningkat sedikit dari biasanya, karena banyak digunakan untuk takjil. Alhamdulillah penjualan bisa lebih baik dari pada kemarin-kemarin,” imbuhnya.

Menurutnya, harga daging sapi saat ini juga masih stabil dan belum ada tanda-tanda akan terjadi kenaikan. Ia menyebut, harga daging murni tanpa lemak dan tulang (KW1) senilai Rp130.000. “Kemudian yang KW2 atau daging yang sedikit berlemak seharga Rp110.000. Lalu untuk KW3 yakni tulang iga Rp100.000 dan tetelan Rp80.000,” ujarnya.

Baca juga:  MTsN 9 Bantul Gelar Sosialisasi ZI WBK, Komitmen Ciptakan Pelayanan Bersih dan Bebas Korupsi

Menurutnya, harga tersebut merupakan harga yang normal. Sementara itu, kenaikan harga daging ini biasanya terjadi pada saat mendekati hari Idulfitri. “Kenaikan harga itu biasanya terjadi tiga atau empat hari sebelum lebaran. Pengalaman tahun kemarin, kenaikan harga daging KW1 dari 130 ribu jadi 150 ribu,” pungkasnya. (nik/abd)