Akademisi Sebut Jogja Darurat Sampah

BUANG: Sejumlah masyarakat sedang membuang sampah yang telah ditimbun ke dalam truk sampah yang datang untuk mengangkutnya ke tempat pembuangan akhir, di sekitar pasar Lempuyangan. (MUHAMMAD ABU YUSUF AL BAKRY/JOGLO JOGJA)

SLEMAN, Joglo Jogja – Pengelolaan sampah memegang peranan penting dalam mencapai target pembangunan berkelanjutan, karena sampah adalah isu yang berdampak pada berbagai aspek masyarakat dan ekonomi.  Dosen Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik UGM, Prof. Chandra Wahyu Purnomo mengatakan bahwa pengelolaan sampah di Jogja masih dalam kondisi darurat karena belum terselesaikan hingga saat ini.

“Meskipun banyak peraturan mengenai sampah, mulai dari undang-undang hingga peraturan daerah, sistem pengolahan kita masih tertinggal dibandingkan negara lain. Di Jogja, kita masih sangat bergantung pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Piyungan,” ungkapnya, belum lama ini.

Baca juga:  40 Anggota DPRD Kota Yogyakarta Ditetapkan

Dikatakan bahwa kegagalan dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah di Jogja disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya. “Sepatutnya sampah sudah dipilah sejak di rumah tangga, kantor, pabrik, atau kampus. Ketika sampah tidak dipilah di hulu, proses pengolahannya menjadi lebih berat,” jelasnya.

Dirinya berharap partisipasi publik dalam mengelola sampah sendiri bisa mencapai 30%, sementara 70% sisanya ditangani oleh fasilitas pemerintah. Sebab, masalah sampah dinilai sangat kompleks.

“Pemanfaatan fasilitas pemerintah seperti TPS3R dan Bank Sampah belum optimal, dengan 90% sampah di Jogja masih berakhir di TPA. Dari 30 TPS3R di Sleman yang dibangun oleh Kementerian PUPR, hanya 10 yang beroperasi. Bayangkan jika semua TPS3R diaktifkan, proses pemilahan sampah pasti akan lebih cepat,” ujarnya.

Baca juga:  Hadapi Musim Kemarau, DPKP DIY Siap Beri Bantuan

Pihaknya pernah melakukan riset mandiri terkait volume sampah di Kota Jogja mencapai 300 ton per hari dan jumlah tersebut cenderung meningkat. Statusnya sudah darurat, tapi masyarakat belum memiliki kesadaran untuk memilah sampah.

“Sehingga muncul masalah baru seperti tempat pembuangan sampah ilegal. Kita harus terus mengedukasi masyarakat untuk memilah sampah. Kalau perlu, ada sanksi sosial seperti di negara maju,” pungkasnya. (suf/abd)