Sarasehan Sejarah Bantul, Pupuk Rasa Cinta terhadap Daerah

GUYUB: Bupati Bantul Abdul Halim Muslih saat menghadiri sarasehan sejarah dalam rangka memperingati hari jadi ke-193 Kabupaten Bantul di Bantul Karang, beberapa waktu lalu. (JANIKA IRAWAN/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Dalam rangka memperingati hari jadi ke-193 Kabupaten Bantul, Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olah Raga (Disdikpora) menggelar sarasehan sejarah sebagai upaya mengajak masyarakat mengenang kembali sejarah masa lalu. Kegiatan tersebut sekaligus sebagai salah satu upaya mengingat dan memahami kembali sejarah berdirinya Kabupaten Bantul.

Adapun acara sarasehan peringatan hari jadi Bantul ini diselenggarakan di Bantul Karang yang merupakan lokasi pemerintah Bupati pertama Bantul. Pemilik lokasi pun dimaksudkan untuk merasakan kembali sejarah dan nuansa kala itu.

Kepala Disdikpora Bantul Nugroho Eko Setyanto menyampaikan, kegiatan sarasehan ini diisi oleh narasumber Dr. Ahmad Athoillah yang merupakan Dosen sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada. “Semoga, dengan adanya sarasehan itu masyarakat akan lebih memahami, dan mengetahui tentang sejarah berdirinya Kabupaten Bantul dan juga perkembangan sampai saat ini,” ungkapnya, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, sarasehan yang dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan sejarah ini sangat penting bagi masyarakat. Sehingga pemahaman akan sejarah ini dapat membuat warga Bantul semakin mencintai daerahnya.  “Harapnya sarasehan ini bisa memberikan pengertian dan memupuk cintanya warga Kabupaten Bantul terhadap daerahnya,” ujar Nugroho.

Baca juga:  160 CGP Bantul Dinyatakan Lolos dan Siap Menuju Transformasi Pendidikan

Selain itu, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih juga turut berharap, acara sarasehan ini tidak hanya menjadi wahana diskusi serta sinergitas kerja, namun juga menjadi wadah berembuk untuk menghasilkan rekomendasi bernilai konstruktif. Yang dapat diaktualisasikan bersama bagi kemajuan Kabupaten Bantul. Utamanya dalam menghadapi tantangan yang ada serta menangkap peluang-peluang emas di masa mendatang.

“Dengan semangat bersatu membangun Bantul maju, sejahtera, dan berbudaya, mari kita sinergikan seluruh potensi yang kita miliki untuk menuntaskan permasalahan yang saat ini kita hadapi. Yakni pengentasan kemiskinan, penuntasan stunting, dan penyelesaian masalah sampah, serta mewujudkan Bantul sebagai kabupaten layak anak (KLA) yang paripurna dapat terwujud,” terangnya.

Baca juga:  Kekeringan Mulai Melanda DIY, Dua Kapanewon di Gunungkidul Minta Bantuan Air Bersih
BAHAGIA: Bupati Bantul Abdul Halim Muslih saat menerima suvenir dari pemilik Pendopo Onggodimejo, beberapa waktu lalu. (JANIKA IRAWAN/JOGLO JOGJA)

Menurut Halim, inovasi, sinergi, dan kolaborasi menjadi salah satu kunci suksesnya pembangunan di Bantul. Hal itu dikarenakan permasalahan-permasalahan yang ada saat ini merupakan masalah multi-sektor yang dapat diselesaikan oleh sinergitas stakeholder yang ada.

Belum lagi, Bantul sebagai The Original of Mataram dan pintu gerbang kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki budaya warisan leluhur yang adi luhung. Sehingga dia berharap, pendekatan budaya dan kearifan lokal yang merupakan salah satu kekayaan budaya dapat dijadikan sebagai salah satu cara dalam penyelesaian masalah yang ada sekarang ini.

“Pelibatan budaya dalam penyelesaian masalah selain menjadi salah satu strategi penuntasan masalah juga menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian budaya,” jelasnya.

Lebih lanjut, budaya dan kearifan lokal dalam masyarakat seperti budaya tolong menolong, sopan santun, gotong royong, dan guyub rukun harus terus ditumbuhkan dalam masyarakat. Sebab, hal itu menjadi modal dasar yang penting dalam pembangunan.

Baca juga:  Kemenag DIY: Lima Jemaah Haji Meninggal karena Komorbid & Cuaca Ekstrem

Dengan besarnya modal dasar, potensi dan didukung daya kreativitas, masyarakat Bantul diharapkan dapat menjadi pendorong untuk melompat lebih jauh. Tanpa harus melupakan akar budaya dan identitas diri sebagai kawula Mataram.

“Untuk itu, mari kita bergandengan tangan dalam harmoni yang seirama dan saling menguatkan satu sama lain. Kebersamaan adalah kekuatan kita. Dengan kebersamaan, kita telah, sedang, dan akan terus bekerja keras mengatasi permasalahan yang ada,” jelas Halim.

Penuntasan masalah sampah, penuntasan kemiskinan, stunting serta pencapaian KLA Paripurna, kata Halim, bukanlah tugas yang dapat diselesaikan sendiri oleh pemerintah. Diperlukan kerja sama dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat Kabupaten Bantul.

“Saya yakin dengan dilandasi kebersamaan kita mampu menuntaskannya. Jalan kita masih panjang, cita-cita masih terus harus kita bentangkan dan kerja keras harus direalisasikan dalam suatu karya nyata,” tandasnya. (nik/abd)