SMP YP Sanden Terancam Tutup akibat Zonasi, Disdikpora Bantul Masih Lakukan Evaluasi

Kepala Disdikpora Kabupaten Bantul Nugroho Eko Setyanto. (JANIKA IRAWAN/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Persoalan berbeda  dihadapi Dinas Pendidikan dan Olahraga (Disdikpora) Bantul. SMP Yayasan Pendidikan (YP) Sanden, Bantul terancam tutup menyusul SMP YP 17 Pandak yang sudah gulung tikar pada 2023 lalu. Pasalnya, ke dua sekolah ini hanya mendapatkan satu siswa pada saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2024.

Kepala sekolah SMP YP Sanden Krisna Agam Prasetya mengungkapkan, minimnya siswa yang mendaftar ini disebabkan oleh sistem zonasi. Dalam dua tahun terakhir, SMP swasta yang terletak di selatan Kabupaten Bantul ini hanya menerima masing-masing satu siswa.

”Tahun ini yang daftar satu anak. Tapi memang sejak dua tahun terakhir hanya menerima masing-masing satu siswa saja. Faktor utama karena zonasi. Jadi sangat berpengaruh sekali untuk sekolah sini,” ungkapnya Minggu (21/7).

Akibatnya, pada hari Senin lalu (15/7) tidak ada kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sebab, satu siswa yang mendaftar tersebut masuk sekolah pada hari berikutnya.

Krisna menjelaskan, meskipun hanya menerima satu peserta didik, hal itu tidak mempengaruhi kegiatan belajar mengajar (KBM). ”Tetap diajar seperti sekolah yang lainnya. Jadi siswa banyak sedikit tetap mengajar, mau siswa sedikit sama saja,” katanya.

Menurutnya, penurunan jumlah siswa ini sudah mulai terjadi sejak 2017 silam. Saat itu SMP YP Sanden masih bisa mendapatkan 10 – 14 peserta didik, namun tren itu mulai turun ditahun berikutnya yang hanya menerima siswa sekitar 4 – 5 saja.

Lalu pada 2023 dan 2024 ini hanya satu peserta didik. Meskipun masih akan terus beroperasi selama masih ada siswa, namun pihaknya juga khawatir akan tutup seperti yang dialami oleh SMP YP 17 Pandak yang tutup sejak tahun lalu.

”Kondisi hampir sama dengan disini. Dulu itu hanya satu anak. Karena sudah tidak sanggup, karena ujiannya ASPD-nya itu numpang, sekolah harus membayar dan sebagainya. Lalu yang siswa satu itu akhirnya dipindahkan ke sekolah lain,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Disdikpora Bantul Nugroho Eko Setyanto mengatakan, perihal kasus minimnya siswa yang mendaftar seperti di SMP YP Sanden perlu pengkajian. ”Jadi kalau disebut ada alasan karena ini, karena itu, kami belum bisa komentar. Sebab, untuk menentukan kenapa sebuah sekolah itu minim murid itu kan perlu kajian bersama. Karena penyebab tidak hanya satu-dua, tapi juga mungkin ada beberapa faktor kenapa bisa demikian,” ujarnya dihubungi Minggu (21/7)

Dia mengungkapkan, hingga saat ini belum melakukan pemetaan sekolah swasta yang minim menerima peserta didik. Menurutnya Disdikpora masih harus mengevaluasi semuanya.  ”Nanti kami evaluasi dulu yang negeri, setelah itu baru evaluasi untuk yang swastanya seperti apa,” jelasnya. (nik/ila)