Deteksi Dini Komplikasi Kehamilan dan Persiapan Persalinan

Dosen dan Mahasiswa Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang Kampus Kendal Berdayakan Ibu Hamil

KOMPAK: Dosen dan tim mahasiswa Program Studi Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang Kampus Kendal melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) di Desa Lebosari Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal, Rabu (25/6/2025). (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

Sebagai upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi, dosen dan tim mahasiswa Program Studi Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang Kampus Kendal melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) pada Rabu (25/6/2025) di Desa Lebosari kecamatan Kangkung Kabupaten Kendal. Tajuknya Pemberdayaan Ibu Hamil dalam Deteksi Dini Komplikasi dan Persiapan Persalinan Berbasis Media Edukasi Booklet dan Website.

KEGIATAN pengabmas ini diketuai oleh Heny Rosiana. Anggotanya dosen Rozikhan dan Sayidah, serta melibatkan mahasiswa Kebidanan UPP Kampus Kendal. Tujuannya adalah memberikan edukasi sekaligus layanan kesehatan bagi ibu hamil agar mampu mengenali tanda bahaya selama kehamilan, serta mempersiapkan persalinan secara matang.

”Deteksi dini komplikasi sangat penting untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Ini sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) yang ingin menekan rasio kematian ibu menjadi di bawah 70 per 100.000 kelahiran hidup,” terang Heny, Rabu (25/6/2025).

Kegiatan pengabmas ini terbagi menjadi tiga tahapan utama. Pertama, pemeriksaan kesehatan ibu hamil secara menyeluruh yang meliputi pengukuran tekanan darah untuk mendeteksi risiko pre-eklampsia, pemeriksaan berat badan untuk memantau pertumbuhan janin, serta tes hemoglobin untuk mengetahui potensi anemia pada ibu hamil.

Kedua, penyuluhan kesehatan yang disampaikan melalui booklet cetak dan informasi digital melalui website. Materi edukasi mencakup tanda-tanda bahaya pada setiap trimester kehamilan, seperti mual muntah berlebihan dan perdarahan di trimester pertama, hingga gerakan janin yang berkurang dan pecahnya ketuban sebelum waktunya di trimester ketiga.

”Pengetahuan ibu terhadap tanda bahaya sangat menentukan keputusan cepat dalam mencari bantuan medis. Karena itu, kami menggunakan pendekatan media cetak dan digital agar penyebaran informasi lebih luas dan mudah diakses,” kata Rozikhan, anggota tim.

Tahap ketiga adalah perencanaan persalinan yang komprehensif. Para ibu hamil diajak untuk menyusun rencana kelahiran, termasuk menyiapkan lokasi persalinan, moda transportasi, barang keperluan persalinan, hingga mengidentifikasi pengambil keputusan dalam kondisi darurat.

”Kehamilan adalah masa yang membahagiakan, tapi juga penuh tantangan. Peran keluarga, khususnya suami, sangat penting untuk mendukung ibu agar kehamilan berjalan sehat dan persalinan bisa berlangsung aman,” ujar Sayidah menambahkan.

Melalui kegiatan ini, tim berharap ibu hamil semakin sadar akan pentingnya mengenali tanda bahaya dan melakukan persiapan persalinan dengan baik, sehingga dapat menekan angka kematian ibu dan bayi di masa mendatang. (luk/amd)