Kirab ini pertama kali digelar secara besar pada 2016 dengan tajuk Gunungan Sabto Argo, namun sempat terhenti karena berbagai kendala. Tahun ini, tradisi itu kembali dihidupkan dan disinergikan dengan peresmian kawasan wisata baru bernama Rahtawu Highland.
“Harapannya selain untuk menghormati leluhur, juga agar budaya dan potensi wisata Rahtawu bisa dikenal lebih luas,” tambahnya.
Pemilihan waktu kirab pun tidak sembarangan. Dilaksanakan pada 10 Sura, bulan yang dianggap sakral dalam penanggalan Jawa. Menurutnya, banyak tempat pertapaan yang buka secara spiritual pada tanggal tersebut, termasuk lokasi yang dikeramatkan seperti pertapaan Eyang Sakri dan Eyang Abiyasa.
Nama-nama leluhur seperti Eyang Pandudiwonoto, Eyang Modo, Eyang Semar, hingga Eyang Yabiringseloko menjadi tokoh spiritual yang selalu disebut dalam doa masyarakat. Sebelum menggelar hajat besar, warga biasanya sowan atau berziarah lebih dulu sebagai bentuk penghormatan dan permohonan restu.
Sementara itu, Pj Kepala Desa Rahtawu, Sukono mendukung penuh kegiatan ini sebagai bagian dari pelestarian budaya dan penguatan ekonomi desa.
”Selain bernilai spiritual, kegiatan ini mendorong masyarakat untuk lebih mencintai hasil pertanian lokal dan menjadikannya potensi ekonomi. Ini bentuk syukur atas hasil panen sekaligus lambang kemakmuran,” ujarnya.
Sebagai kearifan lokal, Kirab Tujuh Gunungan bukan sekadar ritual, melainkan refleksi harmoni antara manusia, alam, dan keyakinan.
Rahtawu mengajarkan, bahwa untuk hidup sejahtera, tidak cukup hanya dengan bekerja, tapi juga menghargai warisan leluhur yang mengikat kebudayaan dengan kehidupan spiritual masyarakat. (adm).










