BANYUMAS, Joglo Jateng – Ada yang berbeda dari Narco alias Kang Icuk dalam memperingati Hari Pahlawan (10 November) dan Hari Guru (25 November). Dia memeringati moment bersejarah itu dengan cara menelusuri jejak sejarah sekaligus menanamkan nilai-nilai perjuangan melalui ‘Ekspedisi Merah Putih’.
Bagi dia, kedua momen itu saling berhubungan erat. Pahlawan telah berjuang memerdekakan bangsa, sedangkan guru berjuang mencerdaskan generasi penerus. Sedangkan guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.
Bersama para sahabatnya, Kang Icuk rutin melaksanakan ekspedisi ini di berbagai titik bersejarah di wilayah Banyumas dan sekitarnya. Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan, melainkan bentuk penghormatan dan pembelajaran tentang semangat perjuangan para pahlawan bangsa.
Setiap tahun, rombongan ‘Ekspedisi Merah Putih’ yang digagas Kang Icuk selalu memulai perjalanan dengan napak tilas jalur gerilya. Jalur tersebut dulunya pernah digunakan para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan.

“Kami menyusuri hutan, sungai, dan perbukitan yang dahulu menjadi jalur pergerakan pasukan rakyat Banyumas. Tak hanya napak tilas, kami juga mengunjungi makam pahlawan, situs perjuangan, hingga monumen bersejarah yang tersebar di berbagai titik. Di sana kami mengheningkan cipta, membersihkan area makam, dan mengenang jasa para pendahulu dengan doa bersama,” papar Kang Icuk kepada wartawan, Senin (10/11/2025).
Bagi mereka, napak tilas bukan hanya mengenang masa lalu, tapi juga cara belajar nilai-nilai perjuangan dan cinta tanah air.
TANAM POHON
Selain kegiatan sejarah, ekspedisi ini juga diisi dengan pembagian dan penanaman bibit pohon di sekitar jalur yang mereka lalui. Menurut Kang Icuk, hal ini menjadi simbol bahwa perjuangan tak berhenti pada kata ‘Merdeka’, tetapi juga bagaimana menjaga bumi dan budaya yang diwariskan.
“Menanam pohon bagi kami adalah bentuk hormat pada alam dan bagian dari cinta tanah air. Alam yang lestari akan menjaga sejarah dan kehidupan kita,” ujarnya.

Kegiatan berbagi bibit pohon ini telah menarik perhatian banyak komunitas muda, pegiat lingkungan, serta pendidik di daerah Banyumas dan sekitarnya. Banyak di antara mereka yang akhirnya bergabung untuk ikut serta dalam ekspedisi tahun berikutnya.
PEGIAT WISATA
Di kampung halamannya, Kang Icuk yang saat ini sedang menempuh pendidikan sarjananya di STEMBi Al Aziziyah Randu Dongkal, Pemalang jurusan Pariwisata Syariah itu adalah pegiat wisata.
Kecintaannya terhadap dunia pariwisata ia wujudkan dengan menjadi pegiat desa wisata dan promotor wisata lokal Banyumas. Melalui berbagai kegiatan, ia berusaha mengangkat potensi alam, budaya, dan kuliner khas daerah agar dikenal luas, tanpa meninggalkan nilai-nilai religius dan kearifan lokal.
“Wisata itu bukan hanya soal hiburan. Bagi saya, wisata adalah jembatan untuk mengenalkan identitas bangsa dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” ungkapnya.
Bagi Kang Icuk, menjadi pahlawan tidak selalu berarti mengangkat senjata atau berdiri di depan massa. Pahlawan era ini, cukup dengan menyalakan semangat merah putih di hati orang lain, melalui aksi nyata yang membawa manfaat.
“Kalau setiap orang mau berbuat kecil tapi tulus, itu sudah perjuangan. Karena cinta tanah air itu bukan slogan, tapi tindakan,” ujarnya menutup pembicaraan. (mrn).










