KAB. SEMARANG, Joglo Jateng – Di tengah hamparan persawahan Ambarawa yang hijau, sebuah bangunan tua berdinding tebal tampil dengan wajah barunya. Benteng Fort Willem I, atau yang akrab disebut Benteng Pendem, kini resmi hadir sebagai destinasi wisata baru. Situs bergaya arsitektur Eropa yang dulunya menjadi kompleks penjara ini menawarkan pengalaman wisata historis lengkap dengan spot foto estetik yang menonjolkan nuansa abad ke-19.
Benteng Pendem diresmikan pekan lalu oleh Kasdam IV/Diponegoro Brigjen TNI M. Andhy Kusuma bersama jajaran Forkopimda Kabupaten Semarang. Dalam sambutannya, Brigjen Andhy menegaskan bahwa revitalisasi ini merupakan bentuk kesadaran kolektif untuk merawat warisan sejarah secara berkelanjutan.
“Benteng Pendem harus menjadi ruang edukasi sejarah dan budaya yang berkualitas, sekaligus memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Presiden Direktur PT Lawu Grup, Parmin Sastro Wijono, menyampaikan bahwa wajah baru Benteng Pendem akan mengambil inspirasi dari kawasan wisata bukit kuliner di Malaysia.
“Di sini nanti akan hadir wisata kuliner termegah di Jawa Tengah. Sudah ada sekitar 150 pelaku UMKM yang memesan tempat,” katanya antusias. Selain itu, pusat oleh-oleh terbesar juga disiapkan untuk menjadi magnet ekonomi baru bagi warga.

Benteng berusia hampir dua abad itu kini bukan hanya ruang nostalgia, tetapi juga ruang hidup yang ramah bagi pelaku UMKM, keluarga, dan wisatawan yang ingin menikmati suasana unik. Bupati Semarang Ngesti Nugraha menyambut hadirnya destinasi ini dengan optimisme. Menurutnya, pengembangan Fort Willem I akan membuka peluang ekonomi baru, memperluas lapangan kerja, dan menghidupkan kembali pariwisata Ambarawa.
Dari kejauhan, Benteng Fort Willem I tampak seperti raksasa tua yang terbangun dari tidur panjang. Dinding bata setebal pelukan tiga orang dewasa, jendela lengkung, dan bagian-bagian bangunan yang tergerus waktu justru memberi karakter estetik yang menjadikannya lokasi favorit untuk berfoto. Disebut Benteng Pendem karena sebagian strukturnya berada di bawah permukaan tanah, bangunan ini seolah menyembunyikan kisah masa lalu di balik kekokohannya.










