Jangan Lewatkan! Supermoon Terakhir 2025 Hiasi Langit Indonesia Mulai Malam Ini

Fenomena bulan purnama. (ANTARA-Yulius Satria Wijaya/JOGLO JATENG)

JOGLO JATENG – Fenomena astronomi menarik akan kembali menghiasi langit Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa fenomena Bulan Purnama Perigee atau yang lebih dikenal sebagai Supermoon akan terjadi pada 4 hingga 5 Desember 2025.

Fenomena ini menjadi sangat istimewa karena Bulan akan terlihat lebih besar dan lebih terang dari biasanya. Hal ini terjadi karena posisi Bulan berada di titik terdekatnya dengan Bumi (perigee).

“Pada fase ini, Bulan akan terlihat sekitar 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang dibandingkan saat bulan purnama berada di titik terjauhnya (apogee),” ungkap keterangan resmi BMKG.

Masyarakat dapat menyaksikan keindahan Supermoon ini secara langsung dengan mata telanjang tanpa bantuan alat optik, selama kondisi cuaca cerah dan tidak tertutup awan. Waktu terbaik untuk mengamatinya adalah sejak matahari terbenam pada Kamis (4/12) petang hingga Jumat (5/12) dini hari.

Di budaya barat, bulan purnama di bulan Desember ini juga kerap dijuluki sebagai Cold Moon atau Bulan Dingin, menandakan datangnya musim dingin di belahan bumi utara.

Waspada Banjir Rob

Di balik keindahannya, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini terkait dampak fenomena ini terhadap kondisi pasang surut air laut. Adanya gaya gravitasi yang lebih kuat saat Supermoon berpotensi memicu peningkatan ketinggian pasang air laut maksimum.

“Masyarakat di wilayah pesisir diimbau untuk waspada terhadap potensi banjir pesisir atau rob. Fenomena Supermoon dapat menyebabkan pasang air laut lebih tinggi dari biasanya,” tulis peringatan BMKG.

Sejumlah wilayah pesisir, termasuk pesisir utara Jawa Tengah (Pantura), pesisir Jawa Timur, hingga pesisir Kalimantan diprediksi akan mengalami dampak kenaikan muka air laut ini. Banjir rob dapat mengganggu aktivitas transportasi di sekitar pelabuhan dan pemukiman warga pesisir, serta aktivitas tambak garam dan perikanan darat.

Masyarakat diminta untuk terus memantau pemutakhiran data cuaca dan gelombang laut dari kanal resmi BMKG guna mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi. (red)