Tatah 2026, Hidupkan Kembali Ruh Ukir Jepara di Panggung Nasional

INDAH: Sorot mata para pengunjung yang takjub dengan salah satu lukisan hasil ukiran seniman jepara yang dipamerkan pada Pameran Seni Ukir Jepara 2026 bertajuk Tatah 2026 Suluk – Sulur – Jepara di Museum Nasional Indonesia, Rabu (29/4/2026) (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

JAKARTA, Joglo Jateng — Di ruang sunyi Museum Nasional Indonesia, denyut panjang peradaban Jepara seolah kembali bernafas. Pameran Seni Ukir Jepara 2026 bertajuk Tatah 2026 Suluk – Sulur – Jepara hadir bukan sekadar memamerkan karya, melainkan menghidupkan kembali jiwa, sejarah dan makna yang terukir dalam setiap serpihan kayu.

Pameran yang dibuka Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon ini tidak sekadar menampilkan karya, tetapi merepresentasikan perjalanan panjang para pengukir dalam menjaga tradisi. Seni ukir Jepara ditegaskan bukan hanya kerajinan, melainkan bahasa budaya yang hidup dan terus berkembang.

Pegiat seni dan kebudayaan Kabupaten Jepara, Eka Fitri Suryani, menilai pameran ini sebagai refleksi mendalam perjalanan batin para pengukir. Menurutnya ukiran Jepara memiliki akar sejarah kuat sejak masa Ratu Kalinyamat hingga berkembang ke mancanegara berkat peran Raden Ajeng Kartini.

“Ini bukan sekadar pameran, tetapi perjalanan batin para empu yang mengubah kayu menjadi doa. Ukir Jepara bukan warisan mati, tapi benih peradaban yang terus tumbuh dan berbicara ke dunia tanpa perlu diterjemahkan,” katanya.

Salah satu momen penting dalam pameran ini adalah prosesi wiwitan pembuatan Macan Kurung yang sarat makna filosofis. Lukisan yang dibuat dengan teknik ukir ini adalah simbol pengendalian diri dan kekuatan yang pernah terbelenggu. Bagi finalis Duta Wisata Kabupaten Jepara 2028 ini, lepaskan kembali bukan untuk mengamuk, tapi untuk melompat bermartabat ke panggung dunia.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa di balik setiap karya terdapat kehidupan ribuan pengrajin yang bergantung pada keberlanjutan industri ukir. Dengan tema “Suluk – Sulur – Jepara”, pameran ini diharapkan menjadi titik tumbuh kolaborasi baru antara seniman, industri, dan pemerintah, sekaligus memperkuat posisi ukir Jepara di kancah global.

“Tatah bukan sekadar alat, tapi perpanjangan jiwa. Dari Jepara, kita tidak hanya mengukir kayu, tapi juga mengukir masa depan bangsa, bukan lagi hanya soal seni, tapi juga tentang harapan, ekonomi, dan masa depan generasi muda,” tambahnya.(fan/rds)