JEPARA, Joglo Jateng – Di tengah menurunnya jumlah perajin ukir di Jepara, Rumini (47) tetap setia menggeluti profesi yang telah menjadi bagian hidupnya sejak kecil.
Perempuan asal Desa Senenan, Kecamatan Tahunan itu kini dikenal sebagai satu-satunya pengukir perempuan yang masih aktif di desanya.
Ia sekaligus diamanahkan menjadi Ketua Paguyuban Pengukir Perempuan R.A. Kartini Jepara.
Bagi Rumini, mengukir bukan sekadar pekerjaan untuk mencari nafkah. Di balik setiap pahatan yang dibuatnya, tersimpan kisah perjuangan seorang perempuan yang memilih bertahan menjaga warisan budaya Jepara.
Rumini mengaku mengenal dunia ukir sejak kecil. Ia merupakan anak keempat dari lima bersaudara dalam keluarga pengukir.
Saat itu, hampir seluruh anggota keluarganya belajar mengukir sebagai mata pencaharian.
Selepas lulus sekolah dasar (SD), Rumini sebenarnya ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Namun, keterbatasan ekonomi keluarga membuat keinginannya harus dipendam.
“Kalau waktu itu yang bisa melanjutkan sekolah hanya keluarga yang mampu. Saya sebenarnya ingin sekolah lagi, tetapi karena tidak ada biaya akhirnya ikut belajar mengukir seperti kebanyakan warga Sukodono saat itu,” ujar Rumini saat ditemui di kediamannya, Rabu (17/6/2026).
Setiap hari, Rumini berjalan kaki sekitar 1 kilometer menuju tempat pelatihan ukir.
Dengan membawa bekal dari rumah, ia menghabiskan waktu dari pagi hingga sore untuk berlatih, layaknya seorang pelajar yang mengikuti kegiatan sekolah.
“Waktu itu saya tidak merasa malu tidak sekolah, karena setiap hari juga belajar. Pagi sampai sore latihan mengukir terus,” kenangnya.
Ketekunan itu membuahkan hasil. Setelah dinyatakan mahir, ia mendapatkan seperangkat alat ukir dan bahan kerja sebagai modal awal.
Bahkan, ia dipercaya menjadi mentor bagi peserta baru yang bergabung dalam pelatihan tersebut.
Penghasilan pertamanya saat menjadi pengajar ukir terbilang sederhana. Selama 6 bulan, sekitar tahun 1992 ia menerima upah sebesar Rp 125 ribu beserta uang makan.
Meski demikian, Rumini tidak pernah berpikir untuk meninggalkan dunia ukir. Baginya, pekerjaan itu telah menjadi hobi yang menghasilkan pendapatan.
“Bertahan ya karena memang senang. Mengukir itu seperti hobi tapi digaji,” katanya sambil tersenyum.
Menurut Rumini, pekerjaan mengukir justru sangat cocok dilakukan perempuan.
Selain dapat dikerjakan dari rumah, aktivitas tersebut juga tidak terikat jam kerja yang kaku sehingga bisa dilakukan sambil menjalankan peran domestik.
“Bahkan dulu saat anak masih kecil, saya taruh di samping sambil mengukir. Jadi pekerjaan rumah tetap bisa jalan,” ujarnya.
Sebelum menjadi pengukir mandiri, Rumini sempat bekerja selama 12 tahun di sebuah pabrik ukiran.
Dari pengalaman itu, ia merasakan langsung adanya stigma terhadap pekerja perempuan di industri ukir.
Ia mengaku pernah menerima upah lebih rendah dibandingkan pekerja laki-laki meskipun kualitas dan kecepatan kerjanya tidak kalah dengan temannya yang laki-laki.
“Waktu itu ada 6 karyawan dan saya satu-satunya perempuan. Hasil kerja saya sama, bahkan beberapa pekerjaan lebih cepat selesai. Tapi gaji saya hanya Rp 60 ribu per hari, sementara pekerja laki-laki mendapat Rp 90 ribu,” tuturnya.
Pengalaman tersebut tidak membuatnya menyerah. Rumini justru membuktikan kemampuan melalui berbagai karya dan kompetisi ukir.
Awalnya ia mengaku kurang percaya diri mengikuti lomba. Namun, keberanian untuk mencoba akhirnya membuahkan prestasi.
Pada 2022 ia meraih Juara 2 lomba ukir, kemudian meningkat menjadi Juara 1 pada 2024.
Namanya semakin dikenal setelah menerima penghargaan sebagai Tokoh Pengukir Perempuan dalam Kartini Award Kabupaten Jepara 2025.
Kemudian di tahun yang sama, Pemerintah Kabupaten Jepara juga memberikan penghargaan kepadanya sebagai Pelestari Ukir Jepara.
Prestasi Rumini berlanjut pada 2026 ketika ia menjadi satu-satunya perempuan yang memamerkan karya dalam Pameran Tatah di Jepara yang dibuka Menteri Kebudayaan, Fadli Zon.
Dalam pameran tersebut, ia menampilkan karya ukiran bertema ovarium yang mendapat perhatian pengunjung.
Tak hanya itu, salah satu karya ukirnya juga dibeli oleh Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Mugiyanto, pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026. Karya tersebut kini dipajang di ruang kerja Mugiyanto di Jakarta.










