Serunya Belajar Rambu Lalu Lintas Bareng Maskot Zeta, Siswa SD 4 Terban Diajak Jadi Pelopor Keselamatan

Maskot keselamatan lalu lintas bernama Zeta sedang menyapa dan berinteraksi dengan siswa SD Negeri 4 Terban di halaman sekolah
MASKOT: Para siswa SD 4 Terban foto bersama maskot Zeta usai kegiatan sosialisasi keselamatan lalu lintas anak usia dini belum lama ini. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Puluhan siswa kelas 1 hingga kelas 3 SD Negeri 4 Terban, belum lama ini mengikuti kegiatan “Sosialisasi Keselamatan Lalu Lintas Anak Usia Dini”. Program edukatif ini digelar sebagai upaya menanamkan kesadaran berlalu lintas sejak dini, dengan harapan anak-anak dapat menjadi agen perubahan yang menularkan budaya tertib kepada orang tua mereka.

Plt Kepala SD 4 Terban, Mas’amah, menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, anak-anak pada usia emas sangat cepat menangkap hal-hal baru, sehingga edukasi keselamatan sangat tepat diberikan di bangku sekolah dasar.

“Kalau mereka paham aturan lalu lintas, mereka bisa mengingatkan orang tuanya. Justru dari merekalah budaya tertib lalu lintas bisa dimulai dan dibangun di lingkungan keluarga,” ucapnya.

Kegiatan sosialisasi berlangsung meriah dengan dipandu oleh maskot keselamatan lalu lintas bernama Zeta. Kehadiran tokoh ini sukses mencuri perhatian anak-anak sejak pertama kali muncul di halaman sekolah.

Pada sesi awal, para siswa diajak memahami aturan dasar keselamatan di jalan raya. Para fasilitator menjelaskan tata cara berjalan di trotoar, aturan menyeberang jalan yang aman, hingga pentingnya mengenakan helm saat membonceng sepeda motor.

“Kami sampaikan ke anak-anak, kalau mendengar lonceng motor atau melihat orang tuanya akan naik motor, mereka harus berani mengingatkan. Contohnya, ‘Bu, Pak, pakai helm dulu’. Itu contoh kecil tapi dampaknya sangat penting bagi keselamatan,” jelas Mas’amah.

Metode penyampaian materi dibuat dua arah agar tidak membosankan. Setelah penjelasan, anak-anak diminta menjawab pertanyaan ringan seputar materi yang baru diberikan. Interaksi tanya jawab ini membuat pemahaman siswa menjadi lebih cepat dan mendalam.

Bagian yang paling membuat anak-anak antusias adalah permainan ular tangga raksasa bertema lalu lintas. Setiap kotak dalam papan permainan memuat instruksi tertentu, seperti menjelaskan arti rambu atau menjawab situasi di jalan raya.

“Permainan ini bukan sekadar main. Di setiap kotak ada penjelasan dan tanya jawab. Anak-anak harus mengartikan apa maksud rambu atau perintahnya. Jadi mereka belajar tanpa merasa sedang digurui,” ungkapnya.

Usai sesi permainan di luar ruangan, kegiatan berlanjut di dalam kelas. Para siswa diajak menuangkan kreativitas dengan mewarnai gambar-gambar bertema lalu lintas, seperti zebra cross, lampu merah, hingga sosok petugas pengatur jalan.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya mengingat materi hari ini, tetapi juga menerapkannya dan menyampaikannya kepada keluarga. Kalau budaya sadar lalu lintas bisa dimulai dari rumah, angka kecelakaan di jalan raya tentu bisa ditekan,” pungkasnya. (uma/fat)