PATI, Joglo Jateng – Intensitas hujan tinggi yang terus menerus mengguyur wilayah Bumi Mina Tani memicu bencana besar pada akhir pekan ini. Banjir bandang Pati dilaporkan menerjang sejumlah desa yang tersebar di tujuh kecamatan pada Jumat (9/1/2026) malam, meninggalkan endapan lumpur tebal di permukiman warga.
Tujuh kecamatan yang terdampak parah meliputi Kecamatan Dukuhseti, Tayu, Gunungwungkal, Margoyoso, Wedarijaksa, Pati Kota, dan Margorejo. Dampak kerusakan yang masif memaksa Bupati Pati, Sudewo, turun langsung meninjau lokasi bencana guna memastikan langkah penanganan darurat berjalan cepat.
Bupati meninjau langsung tiga titik terparah, yakni Desa Sidokerto (Pati Kota), Desa Bulumanis Kidul (Margoyoso), dan Desa Ngurenrejo (Wedarijaksa). Di lokasi, suasana keprihatinan terasa saat warga berupaya membersihkan sisa material banjir.
Tanggul Jebol Akibat Sumbatan Dapur Bambu
Dalam tinjauannya, Sudewo mengungkapkan bahwa penyebab utama banjir di wilayah Wedarijaksa dan sekitarnya adalah masalah teknis di aliran sungai. Ia menyoroti adanya sumbatan material alami kiriman dari hulu.
“Banjir yang terjadi di Pagerharjo itu penyebab utamanya adalah dapur bambu ini. Dapur bambu yang terkirim dari atas kemudian ke bendung di sungai Desa Bungasrejo menyebabkan beberapa titik tanggul jebol sehingga terjadi banjir,” jelas Sudewo.
Merespons kondisi tersebut, Pemkab Pati langsung mengambil langkah taktis. Sudewo menegaskan prioritas penanganan meliputi:
- Perbaikan Tanggul: Menutup segera tanggul yang jebol di Ngurenrejo dan Pagerharjo.
- Pembersihan Sungai: Mengangkat material bambu di sepanjang alur sungai hingga ke hulu agar tidak terjadi sumbatan ulang.
“Solusinya, tanggul yang jebol akan kami perbaiki segera. Bambu yang berada di tengah-tengah sungai sampai ke atas juga akan kami bersihkan supaya tidak terjadi kiriman bambu lagi,” tegasnya.










