PBNU Luncurkan Gerakan AGUS: Distribusikan 100 Ribu Mushaf Al Quran dan 20 Ton Telur untuk Santri

POTONG PITA: Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (kanan) bersama Wagub Jateng Tak Yasin Maimoen, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng P, dan Pengasuh PP Al Uswah KH Muhammad Thoyyib Farchany Al-Hafidz potong pita dan balon melepas armada pengangkut mushaf Al Quran untuk didistribusikan ke para santri, di PP Al Uswah Gunungpati Semarang, Minggu (8/3). (ISTIMEWA/JOGLO JATENG).

SEMARANG, Joglo Jateng – Sebagai upaya mendukung kebutuhan belajar sekaligus pemenuhan gizi para santri di pondok pesantren, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meluncurkan Gerakan Al-Qur’an dan Gizi untuk Santri (AGUS).

Program ini ditandai dengan distribusi 100.000 mushaf Al-Qur’an senilai Rp 10 miliar dan 20 ton telur bagi santri di berbagai pesantren.

Peluncuran program yang merupakan kolaborasi Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU, Yayasan Al Fatihah, dan RMI PWNU Jawa Tengah itu digelar di Pondok Pesantren Al Uswah, Gunungpati, Kota Semarang, Minggu (8/3).

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dalam sambutannya menyampaikan bahwa gerakan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar PBNU untuk membantu memenuhi kebutuhan yang masih dirasakan di lingkungan pesantren, khususnya terkait pendidikan dan gizi santri.

“Program ini merupakan ikhtiar untuk menambal berbagai kebutuhan yang masih kita temui di pesantren. Animo terhadap program peningkatan gizi santri sangat besar karena memang kebutuhannya juga sangat besar,” ujar Gus Yahya.

Ia menjelaskan, selama ini RMI PBNU menjadi ujung tombak kerja sama PBNU dengan pemerintah dalam pelaksanaan program makan bergizi bagi santri.

Hingga kini ratusan titik program tersebut telah berjalan dan masih banyak lagi yang dalam proses verifikasi.

Namun demikian, menurutnya, jumlah santri yang sangat besar membuat kebutuhan pemenuhan gizi belum sepenuhnya terpenuhi.

Karena itu, Gerakan AGUS diharapkan dapat membantu meningkatkan kesadaran bersama tentang pentingnya gizi bagi para santri.

“Yang paling penting dari gerakan ini adalah membangkitkan kesadaran bahwa kita membutuhkan upaya sungguh-sungguh untuk meningkatkan gizi santri,” tegasnya.

Selain persoalan gizi, Gus Yahya juga menekankan pentingnya Al-Qur’an sebagai sumber ilmu dan pedoman hidup bagi para santri.

Ia mengingatkan bahwa para ulama sebagai pewaris nabi memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga, mempelajari, dan mengajarkan Al-Qur’an secara benar dengan sanad keilmuan yang jelas.

Sementara itu, Ketua RMI PBNU KH Hodri Ariev menjelaskan bahwa Gerakan AGUS merupakan langkah awal untuk memperkuat dukungan terhadap pesantren, baik dari sisi fasilitas belajar maupun pemenuhan gizi santri.

“Program ini tidak hanya membagikan Al-Qur’an, tetapi juga memperkuat jejaring pesantren serta mendorong kemajuan dan kemandirian pesantren,” katanya.

Menurutnya, setelah peluncuran di Semarang, program tersebut akan dilanjutkan ke berbagai wilayah lain agar semakin banyak pesantren yang mendapatkan manfaat.

Manajer Gerakan AGUS, Ulun Nuhab menyebutkan bahwa berdasarkan data Kementerian Agama terdapat lebih dari 28.000 pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama dengan jumlah santri mukim mencapai lebih dari satu juta orang, bahkan secara tidak resmi diperkirakan lebih dari lima juta santri.

Ia mengungkapkan bahwa tidak semua santri memiliki fasilitas belajar yang memadai. Di beberapa pesantren bahkan masih terjadi keterbatasan mushaf Al-Qur’an sehingga harus digunakan secara bergantian.

Selain itu, sejumlah penelitian juga menunjukkan masih adanya persoalan gizi di kalangan santri, terutama santri putri, yang di beberapa pesantren tingkat kekurangan gizinya mencapai lebih dari 50 persen.

“Karena itu melalui Gerakan AGUS ini kami mendistribusikan 100 ribu mushaf Al-Qur’an dan 20 ton telur untuk sekitar 100.000 santri sebagai langkah awal mendukung kebutuhan belajar dan gizi mereka,” jelasnya. (*/gih).