SEMARANG, Joglo Jateng – Lebih dari 112 guru kelas dan mata pelajaran (mapel) se-Kecamatan Tugu mengikuti lokakarya bertemakan Implementasi Konsep Pemikiran Ki Hajar Dewantara melalui Pembelajaran yang Berpusat pada Murid. Kegiatan ini digelar oleh Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Tugu bersama PGRI Kecamatan Tugu selama dua hari. Yakni pada 16 hingga 17 Juli 2024 di SDN Tugurejo 01 Jalan Walisongo KM. 9, Tugu, Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu.
Ketua K3S Kecamatan Tugu, Sri Yatun mengukapkan, lokakarya dilaksanakan dengan dengan tujuan sebagai persiapan pelaksanaan tahun ajaran baru 2024/2025. Selain itu, sebagai bentuk refleksi dan motivasi terhadap guru terkait bentuk pembelajaran dan peningkatan kompetensi guru di era sekarang.
“Perubahan paradigma dalam pembelajaran serta konsep belajar yang berpusat pada murid juga dibahas serta didiskusikan dan juga dijalankan perannya dengan baik oleh peserta. Sehingga dalam konsep belajar mengajar, pendidik sudah makin menyadari bahwa murid bukan seperti kertas kosong,” ucapnya saat dikonfirmasi Joglo Jateng, Selasa (16/7/24).
Adapun materi yang disampaikan kepada seluruh peserta, terang Sri Yatun, di antaranya konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara, kompetensi sosial emosional guru dan siswa. Kemudian, penyusunan program siswa yang ramah dan berdampak pada murid serta praktik penerapan model pembelajaran terbaru dalam proses belajar mengajar.
“Saya sampaikan apresiasi yang luar biasa kepada semua kepala sekolah dan guru karena sudah mengikuti kegiatan dengan baik. Dan berharap apa yang dipelajari hari ini dan esok bisa memberikan pembelajaran yang lebih bermakna bagi guru,” jelasnya.
Ia menambahkan, berbagai rangkaian kegiatan yang sudah dilakukan kemarin, antara lain diskusi kelompok, presentasi dan saling memberi inspirasi satu sama lain melalui permainan yang menarik. Hal tersebut dilakukan supaya guru lebih senang mengikuti kegiatan ini.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Semarang, Erwan Rachmat menyampaikan, kegiatan seperti ini mestinya harus sering dilaksanakan. Yakni sebagai salah satu usaha untuk bisa memantik semangat para guru agar menjadi lebih bahagia dan merdeka dalam mendidik generasi bangsa.
“Dalam proses pembelajaran guru harus selalu belajar agar pendidikan makin lebih baik,” ujarnya. (int/adf)










