SEMARANG, Joglo Jateng – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat sebanyak 240 kasus HIV hingga Mei 2026. Kasus tersebut dipicu oleh dua hal utama. Di antaranya, masifnya skrining aktif di lapangan serta terjadinya kekosongan stok obat ARV (antiretroviral) di beberapa wilayah lain di Jawa Tengah.
Langkah jemput bola ini sengaja digencarkan untuk memecah fenomena gunung es penyebaran virus tersebut di masyarakat.
Kepala Dinkes Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam menjelaskan, kasus tersebut terjadi dari pasien luar daerah. Yakni, 55 persen dari dalam kota dan 45 persen dari luar kota. Angka tersebut terhimpun dari data orang yang telah melakukan skrining atau pengobatan di Semarang.
Banyaknya pasien luar kota yang berobat ke Semarang disebabkan oleh kenyamanan pelayanan serta ketersediaan logistik obat yang dinilai lebih aman.
“Hari ini diketahui bahwa obat-obatan untuk ARV di beberapa tempat di sekitar Jawa Tengah ini kan banyak yang kosong, pastinya ketika dia mau ngambil obat atau berobat itu kan pasti juga dicek dulu di tempat kita. Itu salah duanya yang menyebabkan kemudian lonjakan kasusnya tinggi,” ujar Hakam saat ditemui di kantornya, Rabu (3/6/2026).
Guna menjaring kelompok berisiko secara lebih luas, Dinkes Kota Semarang menyediakan fasilitas skrining khusus pada malam hari di luar jam pelayanan reguler. Kebijakan ini diterapkan di sejumlah titik strategis seperti Puskesmas Poncol, Pandanaran, Srondol, dan Sekaran.
Layanan ini diberikan agar kawan-kawan dari kelompok berisiko merasa lebih nyaman dan aman saat memeriksakan kesehatannya tanpa perlu merasa khawatir. Selain bersikap pasif di dalam gedung puskesmas, petugas kesehatan juga bergerak aktif melakukan pendekatan langsung ke titik-titik kumpul (hotspot) kelompok berisiko.
Dalam pelaksanaannya, pihaknya dibantu oleh organisasi non-pemerintah (NGO) yang memiliki ruang lingkup kerja lintas wilayah di Jawa Tengah. Pola pemeriksaan terintegrasi inilah yang membuat temuan kasus di ibu kota Jawa Tengah tampak mengalami lonjakan signifikan.
Banjirnya pasien dari luar daerah memaksa Dinkes Kota Semarang untuk melakukan penyesuaian manajemen logistik demi mengamankan pasokan obat bagi warga lokal. Pasien tanpa keluhan yang semula diperbolehkan mengambil obat ARV untuk kebutuhan tiga bulan sekaligus, kini dibatasi pengambilannya menjadi satu bulan sekali.
Skema kontrol ketat ini diterapkan agar ketersediaan obat yang disuplai dari pusat tetap terjaga secara berkelanjutan. Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk bersama-sama mengikis stigma negatif terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).
Hakam menegaskan bahwa dukungan moral dari lingkungan sekitar sangat krusial agar penderita tidak menarik diri dari kehidupan sosial atau takut berobat. Selain memberikan dukungan psikologis, pendekatan preventif berupa edukasi perbaikan gaya hidup (lifestyle) serta komitmen penggunaan pengaman saat berhubungan seksual terus digalakkan.
“Sekarang kita buka biar kita lakukan skrining sebanyak-banyaknya, begitu ketahuan rapid test yang positif kita langsung obati supaya angka apa pun nilainya bisa kita tekan. Termasuk stigma itu juga harus dibangun jangan sampai kemudian mengendorkan atau menjauhi tidak men-support. Selama saya belajar di ilmu penyakit dalam sampai hari ini, yang namanya sembuh tidak, tapi paling tidak bisa menekan jumlah virus yang ada di darah tubuh seseorang yang terinfeksi agar imunitasnya naik,” tandasnya. (hfh/gih/rds)










