Poltekkes Kemenkes Semarang Edukasi Pasangan Muda Cegah Risiko Nikah Dini

FOTO BERSAMA: Pelaksanaan Pengabdian Masyarakat oleh dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang di Kelurahan Bandengan, Jumat (7/8/2026). (TIM PENGABDIAN MASYARAKAT POLTEKKES/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Pernikahan usia dini masih menjadi tantangan bagi kesehatan reproduksi perempuan. Rendahnya penggunaan kontrasepsi pada perempuan yang menikah muda berpotensi meningkatkan risiko terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan.

Ketua Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Semarang, Khobibah mengatakan, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena kehamilan yang tidak direncanakan dapat berdampak terhadap kesehatan ibu maupun bayi. Menurutnya, selain penggunaan kontrasepsi yang rendah, jarak kehamilan yang terlalu dekat dengan kehamilan sebelumnya juga menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko selama masa kehamilan.

“Jarak kehamilan yang terlalu dekat dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi selama kehamilan. Karena itu, perencanaan kehamilan dan pengaturan jarak kehamilan penting untuk diperhatikan,” ujar Khobibah dalam keterangan tertulis, Kamis (13/8/2026).

Ia menuturkan, kehamilan pada perempuan yang menikah di usia dini perlu mendapatkan perhatian lebih. Sebab, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko kesakitan dan kematian ibu maupun bayi, kecacatan pada bayi, hingga gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan yakni penggunaan alat kontrasepsi yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan ibu. Pemilihan metode kontrasepsi yang tepat diharapkan dapat membantu pasangan merencanakan kehamilan sekaligus mengatur jarak kelahiran.

Khobibah menambahkan, pemahaman mengenai kontrasepsi perlu diberikan kepada pasangan usia muda agar mereka dapat mengambil keputusan secara sadar bersama pasangan. Edukasi tersebut mencakup jenis, manfaat, efektivitas, serta pilihan metode kontrasepsi.

“Pasangan perlu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kontrasepsi agar dapat menentukan metode yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya, sehingga kehamilan bisa direncanakan dan jaraknya dapat diatur dengan lebih baik,” katanya.

Untuk mendukung upaya tersebut, dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang Unit Pelayanan Pendidikan (UPP) Kampus Kendal melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kelurahan Bandengan, Jumat (7/8/2026). Kegiatan tersebut menyasar perempuan dari pasangan usia muda.

Kegiatan pengabdian tersebut dipimpin oleh Khobibah sebagai ketua tim. Ia didampingi oleh Septalia Isharyanti, Dr. Budi Astyandini, dan Anissa Nurlia Kusumaningtyas.

Edukasi kontrasepsi tersebut juga menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan kesehatan reproduksi perempuan. Kehamilan yang direncanakan dinilai memberikan kesempatan bagi ibu untuk mempersiapkan kondisi kesehatan dan gizi sebelum maupun selama kehamilan, sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting. (hfh/gih/rds)