SEMARANG, Joglo Jateng – Perubahan cepat dalam dunia kerja akibat kemajuan teknologi menjadi isu utama dalam kegiatan TechTopia yang digelar di BINUS University @Semarang pada 23 hingga 26 Juli 2025. Melalui seminar, pameran program studi, dan workshop karier, acara ini mengajak pelajar SMA dan masyarakat umum untuk memahami arah perkembangan industri masa depan dan pentingnya kesiapan sumber daya manusia.
Kegiatan ini menghadirkan berbagai narasumber dari dunia pendidikan dan industri untuk membahas tantangan yang akan dihadapi generasi muda dalam lima hingga 10 tahun mendatang.
Direktur BINUS University @Semarang, Fredy Purnomo menegaskan bahwa dunia pendidikan saat ini dituntut untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi masa depan yang belum tentu bisa diprediksi secara akurat. Ia menyebut bahwa pekerjaan yang akan dihadapi lulusan empat atau lima tahun ke depan kemungkinan besar belum ada saat ini.
“Mahasiswa yang masuk tahun ini akan lulus empat tahun lagi. Mereka akan menghadapi tantangan dan jenis pekerjaan yang bahkan sekarang belum ada. Maka, kita tidak bisa hanya mendidik untuk kebutuhan hari ini,” ujar Fredy, Rabu (23/7/25).
Fredy menjelaskan bahwa BINUS telah memetakan sejumlah perkembangan teknologi yang akan memengaruhi dunia kerja. Antara lain kecerdasan buatan (AI), teknologi pencetakan 3D hingga konsep dark factory. Yaitu pabrik otomatis yang tidak memerlukan penerangan karena dioperasikan sepenuhnya oleh mesin.

“Pabrik seperti itu sudah diterapkan di negara-negara seperti Tiongkok. Pertanyaannya bukan lagi apakah akan terjadi di Indonesia, tetapi kapan, dan apakah kita siap? Karena mesin bisa bekerja sendiri, manusia harus berada di luar sistem, memberikan arahan, mengontrol algoritma, dan berpikir strategis,” jelasnya.
Melihat tren tersebut, BINUS turut mengembangkan program studi baru seperti Digital Psychology. Menurut Fredy, pendekatan psikologi konvensional tidak lagi cukup untuk memahami tantangan generasi digital yang sebagian besar kehidupannya berlangsung di dunia maya.
“Kita sekarang berhadapan dengan generasi Alpha, yang hampir 70 persen aktivitasnya berada di dunia digital. Kita tidak bisa lagi mendekati mereka dengan teori psikologi tahun 60-an. Maka lahirlah program Digital Psychology, yang berupaya memahami perilaku digital dan memberi solusi baru untuk masalah-masalah baru,” kata Fredy.










