Oleh: Rita Ariyana Nur Khasanah
Dosen Biologi UIN Walisongo Semarang
Mahasiswa S3 Program Doktor Biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP Tahun 2024
PERTUMBUHAN populasi yang semakin meningkat, membuat Indonesia masih harus bergelut dalam permasalahan pengelolaan sampah. Menurut data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), jumlah plastik di Indonesia pada tahun 2024 mencapai sekitar 6,8 juta ton atau sekitar 19,64% dari jumlah total timbulan sampah nasional sebesar 34,62 juta ton. Sampah plastik ini menempati urutan kedua setelah sampah sisa makanan (39,28%). Angka yang fantastis ini menunjukkan bahwa sampah plastik masih menjadi persoalan yang serius dalam tata kelola lingkungan.
Sebagai salah satu solusi, berbagai gerakan pengurangan sampah plastik terus menerus digalakkan. Salah satunya melalui kegiatan kreatif berbasis daur ulang, seperti penyelenggaraan karnaval dengan tema daur ulang. Kegiatan tersebut diklaim mampu menyatukan unsur hiburan dan edukasi mengenai kesehatan lingkungan untuk masyarakat.
Masih segar dalam ingatan, perayaan kemerdekaan Indonesia (HUT RI ke-80) tahun 2025 yang telah berlangsung di berbagai daerah, turut diwarnai dengan maraknya kegiatan karnaval kostum plastik, sebuah atraksi yang berhasil menyedot perhatian publik. Karnaval, seperti biasa, selalu menjadi ajang unjuk kreativitas masyarakat, tempat dimana ide-ide yang segar dituangkan dalam wujud rancangan kostum. Para peserta karnaval tampil memukau dalam balutan gaun plastik yang cantik, megah dan berkilau. Dilengkapi dengan aksesoris kepala yang unik, mereka tampil seolah menjelma bak putri raja, hingga setiap langkahnya mampu menghipnotis para penonton.
Karnaval dengan kostum berbahan plastik biasanya dimaksudkan sebagai media edukasi tentang pentingnya daur ulang sampah plastik. Lewat sentuhan kreativitas, limbah plastik yang semula dianggap tak bernilai dapat disulap menjadi sebuah karya seni yang memikat berupa kostum plastik yang unik dan penuh daya tarik.
Selain menjadi simbol kreativitas daur ulang, kostum plastik juga merefleksikan nilai semangat gotong royong. Dalam proses pembuatan kostum plastik biasanya hampir melibatkan banyak pihak, mulai dari keluarga, teman, atau komunitas masyarakat, mulai dari proses pengumpulan, pemilahan, pembersihan, hingga perancangan sampah plastik menjadi sebuah kostum karnaval yang cantik. Pesan yang dapat diambil adalah bahwa kepedulian terhadap sampah plastik tidak bisa dipikul sendiri, melainkan perlu dipikul secara bersama-sama.
Tanpa disadari, dibalik gemerlap kostum karnaval berbahan plastik, tersimpan sebuah ironi, di tengah upaya bangsa mengurangi sampah plastik. Limbah plastik yang seharusnya dikurangi justru kembali dihadirkan dan berpotensi menjadi timbulan sampah plastik baru setelah perayaan tersebut usai. Bagaimana tidak? Alih-alih memanfaatkan plastik bekas, banyak peserta justru membeli bahan baru demi menghasilkan kostum yang terlihat cantik dan estetik. Fenomena ini terlihat jelas dalam sejumlah video yang berseliweran di media sosial yang memperlihatkan proses pembuatan kostum karnaval menggunakan kantong plastik, pipet sedotan, sendok plastik, dan bahan-bahan plastik lainnya yang masih baru (bukan bekas).








