Kudus  

Angkat Permainan Tradisional, Kecamatan Gebog Juara 1 Karnaval Budaya

KEREN: Penari Tari Dolanan Cah Kedungsari tampil keren saat mengikuti lomba karnaval budaya, baru-baru ini. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Tari Dolanan Cah Kedungsari berhasil meraih Juara 1 kategori umum dalam Karnaval Budaya yang digelar di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus baru-baru ini mewakili Kecamatan Gebog. Tarian ini menampilkan beragam permainan tradisional yang mulai ditinggalkan anak-anak karena perkembangan teknologi dan gawai.

Tahun ini, Desa Kedungsari menjadi wakil Kecamatan Gebog dalam ajang tahunan tersebut. Tarian yang dimainkan oleh anak-anak dan remaja ini menampilkan permainan tradisional seperti jaranan, penjor (bawa bendera), kelir, cublak-cublak suweng, gedrik, kotak pos, ular naga, jamuran, hingga engklek.

“Banyak anak-anak sekarang lebih sering bermain gadget. Maka saya ingin melestarikan permainan tradisional dengan cara dikemas dalam bentuk tarian,” ucap Fariq Mustofa, Camat Gebog.

PENTAS: Peserta lomba karnaval budaya mewakili kecamatan gebog pentas di Alun-alun Simpang. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

Tari ini menjadi simbol kolaborasi dan kekompakan antar generasi, serta antar desa. Meski mewakili Kedungsari, peserta yang terlibat juga berasal dari beberapa desa lain di Kecamatan Gebog.

“Persiapannya memang agak mepet, tapi berkat kesungguhan anak-anak, akhirnya bisa tampil maksimal. Alhamdulillah kolaborasi ini membawa keberhasilan yang memuaskan. Baru kali ini bisa mendapatkan juara,” tambahnya.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya, Camat Gebog secara simbolis memberikan permainan tradisional dakon kepada Bupati dan Wakil Bupati Kudus. Ia berharap tari Dolanan Cah Kedungsari bisa kembali ditampilkan dalam berbagai kegiatan budaya di Kecamatan Gebog.

PEMENANG: Kecamatan Gebog menerima penghargaan usai apel hari jadi di halaman Pendopo Kabupaten Selasa, (23/9). (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

Ia juga menegaskan pentingnya memanfaatkan momen seperti festival budaya. Sebagai sarana memperkenalkan dan menghidupkan kembali seni tari dan permainan tradisional kepada generasi muda.

“Saya sangat mendukung adanya festival budaya seperti ini. Tarian bisa menjadi daya tarik agar anak-anak mencintai seni dan kebudayaan. Ini juga sebagai upaya nguri-uri budaya lokal kita,” pungkasnya. (uma/fat)