KUDUS, Joglo Jateng – Upaya pelestarian sekaligus pengembangan produk unggulan daerah terus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Kudus. Salah satunya melalui kolaborasi antara Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi dan UKM (Disnakerperinkop UKM) Kudus dengan Universitas Indonesia (UI), kerja sama dan kemitraan Lembaga Demografi FEB UI, Universitas Tokyo, serta National University of Singapore.
Ratusan pelaku UMKM bordir mengikuti pelatihan tersebut. Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas produksi, inovasi produk, hingga membuka akses pemasaran ke pasar nasional dan internasional.
Kepala Bidang (Kabid) Koperasi dan UKM pada Disnakerperinkop UKM Kudus, M. Faiz Anwari mengatakan, pelatihan tersebut merupakan upaya menjaga keberlangsungan industri bordir khas Kudus. Sebab, saat ini industri tersebut tengah menghadapi berbagai tantangan termasuk menurunnya jumlah perajin dan minimnya regenerasi tenaga kerja.
“Kalau tidak ada pembinaan dan regenerasi, beberapa tahun ke depan bisa saja mengalami penurunan yang lebih serius. Padahal bordir khas Kudus merupakan salah satu ikon daerah yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.
Menurut Faiz, pelatihan tersebut mendorong lahirnya inovasi produk agar bordir Kudus tidak hanya identik dengan kebaya. Tetapi bisa dikembangkan menjadi berbagai produk fashion lain seperti jaket, tas, hingga produk kreatif lainnya.
Ia menjelaskan, program ini juga menjadi sarana regenerasi bagi industri bordir di Kudus. Para peserta akan mengikuti berbagai tahapan pelatihan, termasuk kemungkinan seleksi lanjutan yang berkaitan dengan pengembangan desain produk.
“Kemungkinan bulan depan ada kegiatan lanjutan yang berkaitan dengan desain dan pengembangan produk. Harapannya, setiap peserta memiliki keahlian yang berbeda sehingga dapat saling melengkapi dalam satu kelompok usaha,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, Disnakerperinkop UKM Kudus berperan sebagai fasilitator dengan menyediakan tempat pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK). Selain itu juga membantu koordinasi dengan para pelaku UMKM bordir yang menjadi sasaran program.
“Kami memfasilitasi tempat pelatihan di BLK dan membantu koordinasi dengan para pelaku UMKM. Sementara untuk pelaksanaan kegiatan dan pendanaannya ditangani oleh pihak UI beserta tim yang terlibat dalam program ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kerja sama tersebut bukanlah program yang muncul secara instan. Proses penjajakan dan diskusi telah berlangsung sejak tahun lalu dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk akademisi dari luar negeri.
Salah satu fokus utama program adalah membantu UMKM bordir agar mampu memenuhi permintaan pasar dalam jumlah besar. Selama ini, banyak pelaku usaha yang kesulitan menerima pesanan skala besar karena keterbatasan kapasitas produksi.
Adapun jumlah peserta yang mengikuti rangkaian pelatihan mencapai sekitar 400 orang. Sebelumnya telah dilaksanakan pelatihan dengan peserta sekitar 250 orang, sedangkan pada pelatihan kali ini diikuti sekitar 150 peserta dengan materi yang berbeda.
“Total peserta sekitar 400 orang. Peserta yang mengikuti kegiatan hari ini berbeda dengan pelatihan sebelumnya, materinya juga berbeda-beda sehingga peserta dapat memperoleh kompetensi yang lebih beragam sesuai kebutuhan industri bordir,” sebutnya. (uma/fat/rds)










