KUDUS, Joglo Jateng – Program fasilitasi pencarian pasangan hidup yang digelar Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kabupaten Kudus terus menarik perhatian masyarakat. Hingga saat ini, jumlah pendaftar tercatat telah mencapai sekitar 60 orang, dengan peserta berasal dari berbagai daerah termasuk luar Pulau Jawa.
Sekretaris LKKNU Kudus, Mohammad Solikul Huda mengatakan, pendaftaran masih terus berlangsung melalui jalur daring maupun luring. Dari data yang telah masuk, salah satu peserta terjauh diketahui berasal dari Sumatra Selatan dan berjenis kelamin perempuan.
Menurutnya, tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa kebutuhan akan wadah pencarian pasangan hidup yang aman, tepercaya, dan memiliki pendampingan masih sangat besar. Bahkan, sejumlah peserta yang mendaftar datang dari kelompok usia lanjut.
Salah satu kisah yang menarik perhatian panitia adalah seorang duda berusia 75 tahun yang menghubungi layanan pendaftaran. Pria tersebut menanyakan kemungkinan dirinya masih dapat memperoleh pasangan hidup di usia yang tidak lagi muda.
”Beliau bertanya kepada saya, ‘Apakah saya masih bisa mendapat jodoh?’ Pertanyaan itu tentu menarik karena usianya sudah 75 tahun,” katanya.
Dalam komunikasi yang berlangsung, Huda mengaku menanyakan kesiapan peserta tersebut, terutama terkait kemampuan menjalankan tanggung jawab rumah tangga. Pertanyaan itu meliputi kondisi pekerjaan dan kemampuan memberikan nafkah lahir maupun batin kepada calon pasangan.
Dari hasil percakapan, diketahui bahwa pria tersebut masih aktif bekerja sebagai penjahit dan guru mengaji. Ia juga menyampaikan bahwa anaknya telah dewasa dan hidup mandiri, sehingga keinginannya mengikuti program tersebut semata-mata untuk mencari pendamping hidup di masa tua.
”Saya sampaikan, kalau ingin mencari pasangan, harus tetap memiliki pekerjaan atau aktivitas yang produktif. Jangan sampai tujuan mencari istri justru membuat dirinya bergantung kepada pasangan,” jelas Huda.
Fenomena peserta lanjut usia ini menjadi perhatian tersendiri bagi LKKNU. Pasalnya, program tersebut tidak menetapkan batas usia tertentu bagi para peserta.
Karena itu, panitia masih melakukan evaluasi terkait rentang usia yang ideal tanpa mengurangi hak masyarakat untuk mencari pasangan hidup.
”Kalau ini terus berlanjut, bisa jadi akan ada peserta dengan usia yang lebih tua lagi. Kemungkinan besar mereka mencari pendamping yang bisa menemani dan merawat di masa tua,” ujarnya.










