SEMARANG, Joglo Jateng – Kebijakan opsen atau pungutan tambahan pajak kendaraan bermotor yang diberlakukan di Jawa Tengah sejak awal 2025 mulai terasa dampaknya terhadap industri otomotif. Daya beli masyarakat melemah, dan sejumlah dealer mencatat penurunan penjualan mobil sejak kuartal kedua tahun ini.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) sebelumnya telah menyuarakan keberatan terhadap kebijakan ini. Mereka menilai tambahan pungutan justru berpotensi menekan penjualan mobil yang selama dua tahun terakhir memang sudah mengalami penurunan.
Data GAIKINDO mencatat, penjualan mobil nasional pada 2023 mencapai 1.005.802 unit. Namun, pada 2024, jumlahnya turun menjadi 864.732 unit atau merosot sekitar 13,4 persen. Dengan tren ini, asosiasi menilai kebijakan opsen pajak bisa memperburuk kondisi pasar otomotif.
Meski demikian, beberapa pabrikan menyebut dampak opsen pajak tidak sepenuhnya signifikan. Regional Sales Manager Wuling Motors, Angga mengatakan, penjualan kendaraan listrik (EV) relatif stabil.
“Ada penurunan sebentar di bulan April karena masa adaptasi setelah itu normal kembali. Untuk model bensin mungkin terasa, tapi EV relatif aman,” ujarnya pada Joglo Jateng, Kamis (25/9/25).
Dalam pameran GIIAS Semarang 2025, sejumlah merek otomotif tetap meluncurkan produk baru untuk menarik minat konsumen. Wuling, misalnya, memperkenalkan lini kendaraan listrik terbarunya seperti New BinguoEV, Cloud EV, dan Cortez Darion EV. Kehadiran berbagai produk baru ini diharapkan menjadi alternatif pilihan masyarakat di tengah dinamika pasar.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah saat ini juga memberikan insentif pajak khusus bagi badan usaha yang menanamkan modal di daerah tersebut.
Kepala Bidang Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) Bapenda Jateng, Danang Wicaksono menjelaskan, bentuk insentif berupa keringanan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) hingga 50 persen.
“Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan insentif penanaman modal. Insentif ini diberikan bagi perusahaan-perusahaan yang sudah menanamkan modal di Jawa Tengah,” jelas Danang.
Dengan kondisi ini, pelaku industri otomotif berharap ada ruang relaksasi kebijakan agar penjualan kendaraan tidak semakin tertekan. Sementara pemerintah daerah tetap bisa mendorong pertumbuhan investasi.










