Membawakan kisah “Dongeng Ikan Muria”, Den Hasan tidak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga menyentil persoalan ekologi dan keruhnya jagat digital masa kini.
PERTUNJUKAN Wayang Kali karya pendongeng asal Jepara, Den Hasan, mencuri perhatian pada puncak peringatan Hari Aksara Internasional 2025 di Auditorium Kemendikmas PNFI, Jakarta, belum lama ini.
Dengan gaya atraktif, ia menghidupkan tokoh-tokoh ikan Sungai Muria, dari suasana damai hingga terusik oleh hadirnya sosok buto yang mengacak-acak sungai dan menebar kesalahpahaman.
“Bukan hanya sungai Muria yang bisa keruh, sungai digital pun bisa kotor bila manusia kehilangan kesalehan. Maka yang terjadi adalah saling curiga, kesalahpahaman, bahkan perpecahan,” ujarnya, disambut anggukan penonton.
Dalam kisahnya, Raja Lele menunjuk ikan khutuk untuk mencari jalan damai dan meminta burung-burung menyebarkan pesan persatuan. Tokoh Mbah Bulus pun menegaskan pentingnya kejernihan hati untuk mengurai persoalan.

Tak hanya di panggung, Den Hasan juga mengajak audiens larut dalam simbol kebersamaan. Ratusan peluit bambu dibunyikan serentak hingga menyerupai riak air sungai. “Membersihkan sungai digital tidak bisa saya selesaikan di panggung. Semua tergantung kita, mau atau tidak menjadi agen perubahan literasi digital,” pesannya.
Bahasa tutur khas, boneka wayang berbentuk ikan, dan interaksi langsung membuat pesan moral pertunjukan ini kuat mengakar. Sungai Muria yang keruh menjadi metafora jagat digital yang penuh hoaks, ujaran kebencian, dan konflik.
Sebagai penutup, Den Hasan melantunkan suluk sarat makna: “Ilmu iku kelakone kanthi laku, lekase kalawan kas, setya budya pangekese dur angkara.” Sebuah penegasan bahwa literasi termasuk literasi digital, bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan laku hidup untuk membangun peradaban. (oka/iza)










