Kudus  

Puncak Ta’sis Menara Kudus ke-491, Taj Yasin Dorong Digitalisasi Sejarah Wali

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, dan jajaran Pemkab Kudus hadir dalam acara puncak peringatan Ta’sis Menara Kudus ke-491
‎‎RAMAI: Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, dan jajaran Pemkab Kudus hadir dalam acara puncak peringatan Ta’sis Menara Kudus ke-491 yang dikemas dalam agenda Tembayatan Ta’sis, Rabu (7/1) malam. (ADAM NAUFALDO/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Ribuan warga tumpah ruah memadati kawasan Menara Kudus pada malam puncak peringatan Ta’sis Menara Kudus ke-491, Rabu (7/1) malam. Suasana khidmat dan penuh kebersamaan menyelimuti area gedung parkir Kompleks Makam Sunan Kudus saat agenda bertajuk Tembayatan Ta’sis tersebut berlangsung.

Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan menjadi ruang refleksi sejarah sekaligus ungkapan syukur atas warisan nilai luhur Sunan Kudus (Raden Ja’far Shodiq). Mengusung tema Menebar Energi Peradaban Auliya, acara ini menjadi penanda puncak rangkaian perayaan berdirinya Kota Kudus yang sarat akan nilai religius dan budaya.

Makna Filosofis Tembayatan

Ketua Yayasan Masjid, Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Muchammad Fatchan menjelaskan filosofi di balik tema acara. Istilah tembayatan diambil dari bahasa Jawa Kuno yang bermakna saling menolong.

“Tembayatan ini bukan sekadar perayaan, tetapi simbol kesatuan. Tidak ada sekat antara ulama, pemerintah, dan masyarakat. Semua bersatu meneladani nilai Sunan Kudus,” tegasnya.

Fatchan mengingatkan kembali sejarah berdirinya Kota Kudus yang tertulis pada prasasti bertanggal 19 Rajab 956 Hijriah atau 23 Agustus 1549. Menurutnya, warisan Sunan Kudus tidak hanya berupa bangunan fisik Menara, tetapi juga nilai toleransi, kedamaian, dan kearifan dalam membangun peradaban.

Rangkaian acara malam itu diisi dengan berbagai prosesi, antara lain:

  • Lantunan syair Suluk Tajuk Menara Kudus.

  • Pelantikan pengurus Pemangku Punden dan Belik se-Kabupaten Kudus.

  • Penyerahan penghargaan kepada tokoh pelestari budaya dan sejarah.

Gagas Sejarah Wali Berbasis AI

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, memberikan gagasan progresif bagi generasi muda. Ia mendorong adanya digitalisasi khazanah para wali berbasis teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

“Nilai para wali harus terus hidup. Jika dikemas dengan teknologi yang dekat dengan anak muda, pesan keteladanan itu akan lebih mudah diterima,” ujar Taj Yasin.

Sementara itu, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kudus, Muhardi Jatmiko berharap Menara Kudus konsisten menjadi pusat peradaban dan ruang perjumpaan budaya. “Harmoni spiritual dan kebudayaan inilah yang harus terus dijaga agar Kudus tetap memiliki jati diri,” pungkasnya. (adm/fat)