JEPARA, Joglo Jateng – Momentum halalbihalal yang mempertemukan jajaran pemerintah daerah dengan dua organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, dimanfaatkan secara optimal. Momen ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi pembangunan Kabupaten Jepara ke arah yang lebih baik.
Sinergi tersebut mengemuka dalam kegiatan silaturahmi akbar yang digelar bersama PCNU Jepara dan PD Muhammadiyah Jepara di Gedung Wanita, Selasa (7/4/2026).
Acara pascalebaran itu dihadiri langsung oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo, Wakil Bupati Muhammad Ibnu Hajar, serta jajaran Forkopimda dan para tokoh lintas agama.
Bupati Witiarso Utomo mengatakan, peran ulama dan tokoh agama tak bisa dilepaskan dari proses pembangunan daerah. Ia menyebut, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah di atas kertas, tetapi sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat.
“Pembangunan Jepara ini tidak bisa berjalan sendiri. Perlu sinergi, terutama dengan para kiai dan tokoh agama yang punya pengaruh besar di masyarakat,” terangnya.
Wujudkan Visi Jepara MULUS
Ia menjabarkan bahwa visi Jepara MULUS, yang merupakan akronim dari Makmur, Unggul, Lestari, dan Religius, tidak cukup diwujudkan lewat pembangunan infrastruktur fisik semata.
Menurutnya, nilai-nilai religiusitas dan kerukunan harus selalu ditanamkan dan menjadi fondasi utama dalam setiap kebijakan serta praktik kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di hadapan para ulama, Bupati juga secara transparan memaparkan sejumlah capaian daerah dalam setahun terakhir. Salah satunya adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang tercatat naik dari 74,32 pada tahun 2024 menjadi 74,90 pada tahun 2025 lalu.
Pamerkan Tren Penurunan Kemiskinan
Tak hanya IPM, keberhasilan juga terlihat pada angka kemiskinan yang sukses diturunkan dari 6,09 persen menjadi 5,79 persen. Sementara itu, tingkat pendapatan per kapita masyarakat juga meningkat pesat dari Rp 32,9 juta menjadi Rp 33,93 juta per tahun.
Meski data statistik menunjukkan tren yang sangat positif, ia mengakui capaian tersebut belum cukup apabila tanpa didampingi dukungan moral dan spiritual dari para ulama.
“Capaian ini harus terus dijaga. Kami butuh doa, arahan, dan kritik agar pembangunan tetap berada di jalur yang benar,” tegas Witiarso Utomo.
Selain menjadi ajang mempererat tali silaturahmi pasca-Idulfitri 1447 Hijriah, kegiatan ini juga diwarnai dengan aksi sosial pembagian santunan kepada anak yatim dan penyampaian tausiyah keagamaan.
Acara ini sekaligus memfasilitasi interaksi langsung antara kepala daerah dan pelaku UMKM yang diizinkan membuka lapak di sekitar lokasi kegiatan.
Di penghujung acara, Bupati dan Wakil Bupati turut membagikan santunan secara simbolis. Keduanya juga menyempatkan diri memborong produk UMKM sebagai bentuk dukungan nyata terhadap perputaran ekonomi masyarakat lokal. (oka/gih/rds)










