PATI, Joglo Jateng – Kabupaten Pati masih belum bisa menerapkan kurikulum prototipe pada tahun ajaran 2022/2023. Sebab, belum ada instruksi lebih lanjut dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.
Kasubbag TU Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Provinsi Jateng, Haryanto menyebutkan, pihaknya masih menunggu instruksi resmi dari dinas induk, terkait kebijakan tersebut. Meskipun demikian, pihaknya telah menyiapkan langkah-langkah untuk menyambut kurikulum tersebut.
“Untuk kurikulum yang baru, kami tetap menunggu instruksi dari dinas induk terlebih dahulu. Dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Kalau memang sudah ada edaran, tentunya akan kami terapkan. Akan tetapi sampai saat ini masih belum ada,” terangnya, Minggu (9/1).
Haryanto, mengungkapkan, pihaknya telah memiliki rancangan tersendiri jelang penerapan kurikulum prototipe. Hal tersebut dilakukan supaya sekolah-sekolah di wilayah Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Jateng siap menghadapi kurikulum baru.
“Kami akan sosialisasikan kepada sekolah-sekolah, agar mereka mengenal dan memahami kurikulum (prototipe, red) itu. Hal itu dilakukan sebagai bentuk persiapan kami. Jadi ketika tahun ajaran baru nanti Kemendikbudristek menghendaki untuk memulai kurikulum tersebut secara keseluruhan, mereka sudah siap,” jelasnya.
Pekan ini, pihaknya berencana melakukan koordinasi dengan tim kurikulum dan tim pengembang di masing-masing sekolah. Agenda tersebut dibuat sebagai tindak lanjut rancangan persiapan penerapan kurikulum prototipe.
“Akan kami bagi per kabupaten atau kota rencananya. Karena jumlahnya terlalu banyak kalau dijadikan satu. Mungkin Pati dulu, kemudian Kudus, dan terakhir Rembang. Sudah kami rancang untuk Januari ini. Sebelum puasa kami harap mereka sudah paham,” paparnya.
Sebelumnya diberitakan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) berencana menerapkan kurikulum prototipe pada tahun ajaran 2022/2023 mendatang.
Diketahui, kurikulum prototipe adalah kurikulum yang akan ditawarkan ke sekolah bersifat opsional. Kurikulum ini hanya akan diterapkan di satuan pendidikan yang berminat menggunakannya sebagai alat untuk transformasi pembelajaran. Para siswa dapat meramu sendiri kombinasi mata pelajaran sesuai dengan minatnya.
Kurikulum prototipe dibuat untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar bisa menekuni minatnya secara lebih fleksibel. Selain itu, juga memberi ruang lebih banyak bagi siswa untuk pengembangan karakter dan kompetensinya. (abd/gih)










