Pernah Jadi Desa Miskin, Bojongnangka Kini Punya Eduwisata

JALAN: Pengunjung menyusuri jalan sepanjang area persawahan di Eduwisata Gatra Kencana, Desa Bojongnangka, Pemalang, belum lama ini. (HUMAS / JOGLO JATENG)

PEMALANG, Joglo Jateng – Desa Bojongnangka, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang yang pernah menyandang predikat desa miskin, kini telah berkembang dan memiliki edukasi wisata. memanfaatkan potensi pertanian di desanya, desa ini membuka objek wisata yang dinamai Gatra Kencana.

Di objek wisata ini, pengunjung dapat menyusuri persawahan dengan jembatan yang dibuat menarik dengan corak warna warni. Selain disuguhkan dengan asrinya suasana persawahan, pengelola juga menyediakan banyak spot foto instagramable. Sangat cocok untuk muda-mudi maupun pasangan yang ingin berlibur bersama buah hatinya. 

RENDAM: Pengunjung menikmati salah satu fasilitas di Eduwisata Gatra Kencana, Desa Bojongnangka, Pemalang, belum lama ini.

Tak hanya itu, dengan berlatarkan eduwisata sawah, Gatra Kencana juga menawarkan belajar mengelola pertanian dengan pupuk organik bagi para pengunjung. Mereka juga bisa menikmati kuliner khas desa.

Menariknya, pendirian Gatra Kencana memiliki sejarah panjang. Awalnya, Desa Bojongnangka masuk dalam kategori desa miskin di Kabupaten Pemalang. Hingga pada 2020, desa ini menjadi desa binaan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jawa Tengah. Selama dua tahun, berbagai upaya dilakukan untuk mengangkat potensi desa, hingga mampu lepas dari jeratan kemiskinan.

“Kita masih dalam tahap meningkatkan perekonomian, khususnya petani,” ungkap Kepala Desa Bojongnangka, Wahmu, belum lama ini. 

SUASANA: Asrinya suasana di Eduwisata Gatra Kencana, Desa Bojongnangka, Kec. Pemalang, Kab. Pemalang, belum lama ini.

Pada 2019, Pemdes setempat berinisiasi untuk membangun rumah produksi pupuk organik. Namun, karena keterbatasan anggaran, mereka hanya mampu membeli mesin pencacah sampah. Kemudian, saat pendampingan di tahun 2020, Desa Bojongnagka mendapat bantuan alat pengayak sampah, bangunan rongga untuk fermentasi, tempat sampah, dan becak pengangkut sampah. 

“Nah, saat itu produksi pupuk organik bisa beroperasi. Hasil pembuatan kompos tidak dijual belikan, tapi diberikan ke petani secara gratis dalam rangka membantu mengurangi kebutuhan pupuk,” terang Kades.

Dia membeberkan, keberhasilan dalam mengelola pupuk berbahan sampah organik dari warga itu, kemudian dikembangkan menjadi eduwisata sawah Gatra Kencana ini. 

“Sekarang saya mengembangkan menjadi wisata edukasi sawah kita namakan Gatra Kencana. Beberapa daerah datang kesini untuk studi banding, seperti Brebes, Tegal, Pekalongan, dan Demak. Sejak dibuka Desember lalu, kini sudah mampu memberi pemasukan Rp 500 juta,” jelasnya. (*)