Langgar Bubrah, Bangunan Akulturasi Hindu Budha

CAGAR BUDAYA: Bangunan Langgar Bubrah yang berada di Desa Demangan, Kecamatan Kota, tak jauh dari letak Menara Kudus. (SYAMSUL HADI / JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Bagi banyak orang mungkin sudah tidak asing lagi dengan cagar budaya yang diberi nama Langgar Bubrah ini. Konon, dalam cerita rakyat Langgar Bubrah merupakan bangunan bercorak hindu yang gagal pembangunannya karena ketahuan oleh Sunan Kudus.

Akan tetapi, bangunan dari batu bata merah yang ditumpuk dengan atap yang berbentuk joglo ini menyimpan cerita lain. Bangunan tersebut merupakan simbol akulturasi hindu dan budha.

KETERANGAN: Deskripsi tentang Langgar Bubrah.

Langgar Bubrah didirikan sebelum agama Islam masuk di Kudus, yakni pada masa antara Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Lasem. Ada ciri-ciri jelas tentang ajaran hindu dan budha. Terutama ajaran hindu.

Sejarawan asal Kudus, Agus Susanto menjelaskan, pada masa itu diperkirakan Kudus merupakan wilayah Kerajaan Kalingga. Dipertegas, dengan adanya kemiripan bangunan dengan ajaran hindu. Yakni ada lingga (bentuk seperti alu, Red) dan yoni (bentuk seperti lumpang, Red) yang melambangkan kesuburan.

LAMBANG: Lingga (bentuk seperti alu, Red) dan yoni (bentuk seperti lumpang, Red) yang ada di Langgar Bubrah melambangkan kesuburan.

“Lingga merupakan jenis kelamin laki-laki dan yoni perempuan, ini melambangkan kesuburan. Itu ciri khas agama hindu. Juga dari bentuk ukiran di antara batu batanya pahatan yang merincikan hindu,” terangnya.

Menurutnya, bangunan yang didirikan sebelum abad XV Masehi dengan ukuran 6,3×6 meter dan tinggi 2,75 meter ini merupakan bangunan akulturasi dari hindu budha. Sekaligus mempunyai dua makna yang mampu diartikan.

“Makna langgar itu tidak harus diartikan musala. Karena langgar itu sudah ada sejak bahasa jawa kuno, yang memiliki arti tempat para ahli kitab hindu dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang diberi nama shastri. Baru masuk Islam, langgar dikonotasikan sebagai musala tempat untuk beribadah para shantri atau santri,” tuturnya.

Agus juga menceritakan, Langgar Bubrah diperkirakan rusak karena adanya Geger Trunojoyo yang terjadi pada tahun 1678. Pada saat itu, Kudus dibumihanguskan oleh Raden Trunojoyo yang memberontak kepada saudaranya Amangkurat II.

“Adanya geger yang membumihanguskan Kudus itu, maka semua bangunan rusak. Yang masih utuh hanya komplek Menara Kudus saja. Ini diriwayatkan oleh Komandan VOC Speelman yang masuk ke Kudus pada waktu itu,” jelasnya.

Hal ini dijadikan pembenaran lantaran bangunan Masjid Madureksan, Klenteng Hok Ling Bio dan Masjid Langgardalem tidak seratus persen original. Disebabkan pada saat itu mengalami kerusakan dan dibangun kembali.

“Sebenarnya tiga bangunan itu originalitasnya sangat rendah, karena rusak dibangun lagi. Tidak murni seperti awal didirikan. Itu dulunya rusak semua seperti Langgar Bubrah, menurut riwayat VOC,” pungkasnya. (sam/ern)