SOLO, Joglo Jateng – Okupansi atau tingkat hunian hotel di Kota Solo jelang Lebaran jeblok karena di bawah 10 persen. Hal itu menyusul kebijakan peniadaan mudik untuk meminimalisasi penyebaran Covid-19 di masyarakat.
“Hampir tidak terlihat adanya kenaikan sama sekali, masih di bawah 10 persen,” kata perwakilan Humas Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Solo Sistho A Srestho di Solo, akhir pekan lalu.
Bahkan, rendahnya okupansi hotel tersebut terjadi satu minggu lalu sejak diterbitkannya kebijakan peniadaan mudik. Menurut dia, kondisi kali ini hampir sama jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Meski demikian, pihaknya tetap berharap agar pemerintah bisa menyeimbangkan kebijakan dalam hal mengakomodasi kesehatan dan pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19.
“Sejauh ini masyarakat masih menunggu kebijakan selanjutnya terkait mudik. Oleh karena itu, kondisi saat ini belum berdampak positif bagi okupansi hotel,” ujarnya.
Sebelumnya, untuk membantu pemulihan ekonomi di Kota Solo, Pemkot Surakarta mengeluarkan kebijakan terkait karantina mandiri yang bisa dijalani oleh pemudik dengan menginap di hotel. Ia mengatakan hotel menjadi pilihan lain jika masyarakat enggan melakukan karantina mandiri di Solo Technopark (STP).
Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surakarta, Ahyani mengatakan, saat ini Pemkot Surakarta sudah menunjuk satu hotel yang bersedia menerapkan protokol kesehatan. Di sisi lain, operasional hotel tersebut juga akan diawasi secara intensif oleh pihak satgas.
“Tujuannya agar selama pemudik melakukan karantina, mereka tidak dikunjungi oleh kerabat. Sejauh ini satu dulu, antara Ibis atau Novotel karena dulu pernah mengajukan bahwa mereka bersedia (sebagai tempat karantina),” katanya. (ara/git)










