Akik Memiliki Daya Tarik Tersendiri bagi Kolektor

koleksi akik buatan Choirun
KOLEKSI: Beranekaragam jenis koleksi akik buatan Choirun yang ditunjukkan kepada awak media Joglo Jateng, Kamis (19/8). (ZULFIA HARYANTI / JOGLO JATENG)

REMBANG, Joglo Jateng – Kegemaran mengkoleksi akik memang banyak disukai banyak orang, terlebih oleh laki-laki. Akik memiliki pesonanya tersendiri sehingga menimbulkan daya tarik bagi para penggemar atau kolektornya.

Salah satu warga Desa Waru, Kecamatan Rembang, Choirun adalah seorang penggemar yang berprofesi sebagai penggosok akik. Menurutnya, profesi itu awalnya adalah hobi. Namun karena dorongan teman-temannya, sekarang kegiatan menggosok akik tersebut menjadi pekerjaannya.

Dia menjelaskan, pelanggan yang datang ke rumahnya kebanyakan membawa batu dan emban tersendiri. “Terkadang mereka membawa bahan yang berjenis batu kapur, kadang juga jenis batu yang bening. Tinggal pelanggan saya menyukai jenis batu yang mana,” ujarnya.

Choirun mengatakan, dia pernah menjual akik buatannya sendiri. Namun jumlahnya tidak banyak. “Paling yang saya jual hanya satu atau dua akik saja, dan itu pun, saya menjualnya ke teman dekat,” ucapnya.

Menurutnya, harga pasaran akik berbeda-beda, bisa naik atau turun berdasar trend. “Kalau bahan jenis batu bacan ada yang harganya mencapai tujuh juta, ada yang seratus juta, bahkan dua ratus juta, bergantung kualitas barang. Ada juga jenis batu giok, harganya sekitar 200 ribuan. Yang paling paling murah juga ada, sekitar 70 ribu. Itu bahannya menggunakan jenis batu biasa,” paparnya.

Sekali menggosok, menurutnya, paling maksimal menghabiskan waktu satu jam. Kalau batunya tidak begitu keras, paling 40 menit sudah jadi. Jasa pembuatannya juga terhitung murah. Ada yang 25 ribu (batu biasa), ada yang 35 ribu (batu bacan, batu merah siam) per batu. Untuk ukuran, pelanggan biasanya menentukan sendiri sesuai dengan keinginan mereka.

“Biasanya pelanggan saya juga nyari emban (ring) tersendiri setelah menggosok batunya. Tapi ada juga yang datang ke sini sekaligus membawa embannya,” jelas Choirun.

Menurutnya, pandemi ini peminat untuk menggosok akik lumayan menurun, berbeda dengan saat sebelum pandemi. Dalam sehari, paling ada 3 orang, terkadang sama sekali tidaak ada. Kalau sebelum pendemi, menurutnya bisa sepuluh sampai lima belas orang, atau saat booming bisa sampai antre seminggu.

Pelanggan Choirun kebanyakan warga di sekitaran Rembang. Kota lain seperti Pati, Jogja, Cilacap juga ada, namun tidak banyak. “Pernah saya punya pelanggan orang Sumatra. Dia mengenal saya melalui media sosial,” pungkasnya. (zul)