Kudus  

Disbudpar Kudus Terus Lakukan Monitoring Tradisi Lebaran

ANTUSIAS: Tampak beberapa masyarakat Desa Hadipolo saat memeriahkan tradisi Bulusan, Senin (9/5). (SYAMSUL HADI / JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Kabupaten Kudus memiliki berbagai macam tradisi saat lebaran. Beberapa di antaranya adalah bulusan dan kupatan. Untuk mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19 akibat tradisi tersebut, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus menerjunkan empat tim guna melakukan monitoring jalannya tradisi serta wisata pasca lebaran.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disbudpar Kudus Mutrikah menyebutkan, tim pemantau dibagi berdasarkan jenis event yang diadakan. Mulai dari wisata tradisi, wisata air, serta wisata umum lainnya. Empat tim tersebut rencananya akan disiagakan pada pelaksanaan tradisi kupatan.

“Tiga dari empat tim sudah digerakkan untuk memantau objek wisata berdasar kategori masing-masing. Sementara satu tim lainnya, bertugas memantau secara keseluruhan. Kami siagakan khusus hari ini (kemarin, red), titik beratnya tentu mengatur ketertiban dan tetap memastikan adanya protokol kesehatan di lokasi wisata,” jelasnya.

Monitoring pelaksanaan tradisi dan tempat wisata ditujukan agar para wisatawan dapat merasa aman ketika berkunjung ke Kota Kretek. Selain itu, adanya tim pemantau juga bertujuan untuk mengingatkan kepada para wisatawan agar tetap disiplin dalam penerapan protokol kesehatan. Sebab, pandemi Covid-19 masih belum berakhir.

“Akan terus kita ingatkan bahwa saat ini masih pandemi. Jadi kita ingin menciptakan pesan bahwa Kudus itu tetap aman, baik itu untuk wisatawan lokal maupun wisatawan dari luar daerah. Terlebih saat tradisi kupatan itu, biasanya wisatawan dari luar daerah juga banyak yang datang,” ujarnya.

Pada pelaksanaan pemantauan tradisi dan wisata, fokus utama yang dilakukan adalah tentang penerapan protokol kesehatan. Hal tersebut dikarenakan, masih ada ancaman lain selain Covid-19. Yakni hepatitis misteri yang tengah ramai diperbincangkan di berbagai daerah.

“Kita tekankan agar tetap taat protokol kesehatan pada saat pelaksanaan tradisi. Terlebih sekarang ada hepatitis misteri yang sedang ramai dibicarakan. Jadi kalau memang mereka bisa menerapkan protokol kesehatan ya monggo silakan. Karena masyarakat juga butuh pemulihan ekonomi, jadi pariwisata harus kita gerakkan meski tipis-tipis,” pungkasnya. (abd/fat)