Fasilitator Sekolah Penggerak, Pendamping Implementasi Kurikulum Merdeka

DAMPINGI: Fardatun Ni’mah saat melakukan pendampingan Sekolah Penggerak melalui daring, belum lama ini. (DOK. PRIBADI / JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek RI) tengah menggencarkan Program Sekolah Penggerak (PSP) untuk mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan memiliki kepribadian unggul melalui terciptanya Pelajar Pancasila. Salah satu komponen penting dalam PSP adalah fasilitator.

Fasilitator Sekolah Penggerak (FSP) bertugas untuk membuka peluang kerja kolaborasi, mendampingi sekolah dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka. Serta menginformasikan paradigma baru dunia pendidikan. Kabupaten Kudus memiliki 3 fasilitator yang ditugaskan di 3 daerah berbeda, yakni Kudus, Grobogan, dan Solo.

Pertama adalah Fardatun Ni’mah, dirinya merupakan satu-satunya pendidik bersertifikat google level satu, tingkat sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Kretek saat ini. Selain itu, alumni Universitas Muhammadiyah Malang itu juga merupakan salah satu Sahabat Rumah Belajar program Kemendikbud tahun 2020.

Baca juga:  Dies Natalis ke-44, UMK Segera Sikapi Perubahan Zaman

Dengan pencapaian yang Farda miliki, tak heran jika dirinya terpilih menjadi salah satu FSP di Kota Kretek. Wanita yang telah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sejak 1998 tersebut memiliki pesan untuk sekolah yang tengah bertransformasi menjadi sekolah penggerak. Yakni agar semangat dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka.

“Kita harus selalu siap dengan perubahan. Harus semangat dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka ini, serta harus bertanggung jawab karena mereka sudah dipercaya menjadi Sekolah Penggerak,” tuturnya.

DAMPINGI: Khumaedah saat melakukan pendampingan Sekolah Penggerak melalui daring, beberapa waktu lalu.

Kemudian FSP kedua adalah Khumaedah. Segudang pengalaman juga telah dia miliki sebelum menjadi FSP. Mulai dari fasilitator program  Decentralized Basic Education 3 (DBE3) yang disponsori oleh United States Agency for International Development (USAID) pada tahun 2007 – 2009.

Baca juga:  Empat Jemaah Haji Asal Kudus Dapat Perawatan Intensif

Alumni IKIP Semarang dan Universitas Negeri Semarang (UNNES) tersebut juga menjadi Instruktur Nasional Kurikulum 13, dalam kurun waktu 2014 – 2018. Kemudian pada 2017, Khumaedah mengikuti seleksi persiapan pembentukan Pusat Belajar Guru (PBG) di Kudus. Hingga saat ini, dirinya juga terus aktif sebagai guru inti di PBG sejak 2018 silam.

Sebagai fasilitator, dirinya berharap agar tenaga pengajar terus bersemangat dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka. “Terus semangat untuk bertransformasi, menjadikan generasi emas Indonesia yang memiliki profil Pancasila. Karena harapan kita generasi yang memiliki profil Pancasila akan mampu bersaing di kancah internasional,” terangnya.

Kemudian terakhir adalah Suyanto. Satu-satunya FSP pria asal Kota Kretek tersebut juga memiliki sejumlah pengalaman yang tak kalah dengan dua fasilitator sebelumnya. Berbagai program pemerintah mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional pernah Suyanto jalani. Alumni Universitas Islam Negeri Yogyakarta dan UNNES tersebut juga aktif di berbagai organisasi.

Baca juga:  BRI Kudus Serahkan Ambulans ke Yayasan Sosial

“Tahun 2017 sampai 2021 pernah jadi narasumber untuk program Bimtek K-13 Bagi Guru Sasaran Jenjang SMP, Bimtek e-rapor, Bimtek Implementasi Strategi Kurikulum Prototipe di PBG. Tahun 2014 juga pernah menjadi Guru Berprestasi PAI Tingkat Provinsi, serta menjadi finalis pada kegiatan Inovasi Pembelajaran Bagi PTK SMP Tingkat Nasional tahun 2014,” ungkapnya.

Terkait statusnya sebagai FSP saat ini, dirinya mengajak seluruh pihak yang terlibat dalam PSP, supaya semangat dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka. “Kita harus terus belajar, terus bergerak, dan terus bermakna demi masa depan Indonesia,” pungkasnya. (abd/fat)