KUDUS, Joglo Jateng- Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Nahdlatul Ulama (NU) Banat Kudus mengembangkan Program Keahlian Tata Busana atau fashion. Berbagai upaya telah dilakukan pihak sekolah, melalui pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) guna peningkatan kualitas siswi-siswi lulusannya.
Kepala SMK NU Banat Kasiati menjelaskan, banyak upaya yang dilakukan sekolahnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan siswinya. Meliputi sinkronisasi kurikulum, pelatihan guru, pemenuhan sarpras, serta pengembangan teaching factory.
Ia menambahkan, SMK NU Banat mengimplementasikan kurikulum dari hasil sinkronisasi dunia usaha dengan dunia industri bidang fashion. Dengan begitu, materi yang dipelajari di sekolah akan sesuai dengan kebutuhan industri fashion yang berkembang. Sehingga lulusan yang dihasilkan akan sesuai dengan harapan industri.
“Berbagai kegiatan pelatihan dengan menggandeng industri juga diadakan untuk meningkatan kompetensi para guru SMK NU Banat. Sehingga mindset mereka akan terbuka untuk selalu meningkatkan kompetensinya sesuai dengan harapan industri,” imbuhnya.
Selain itu, sarana dan prasarana juga selalu dilakukan perawatan dan perbaikan untuk memperlancar proses kegiatan belajar mengajar. Dengan begitu, sarana dan prasarana bisa sesuai dengan standar industri. SMK NU Banat juga melakukan pengembangan Teaching Factory (TeFa), yang salah satunya dilaksanakan dengan melaksanakan Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL).
“Dari PjBL, menghasilkan berbagai produk, diantaranya produk desain, produk fashion, bahan printing, dan lain sebagainya. Produk tersebut juga dipasarkan untuk masyarakat umum,” ungkapnya.
Dari berbagai upaya tersebut, SMK NU Banat menjadi tujuan dari SMK lain dalam pelaksanaan studi banding. Baik swasta maupun negeri dari berbagai wilayah Indonesia. Studi banding tersebut telah mulai sejak tahun 2016 hingga sekarang.
“SMK di Jawa Tengah yang studi banding ke sekolah kita, diantaranya meliputi Rembang, Jepara, Semarang, Kendal. Kemudian ada dari Pekalongan, Tegal, Purworejo, Wonogiri, Surakarta, Wonogiri, dan lainnya,” terangnya.
Dalam kegiatan studi banding, mereka berdiskusi terkait penyusunan kurikulum, kegiatan pelatihan guru maupun pengelolaan TeFa sekolah. Hasil diskusi, akan mereka implementasikan di sekolah masing-masing kedepannya.
“Dampak dari studi banding ini bagus sekali. Tak hanya guru SMK peserta yang terbuka mindset-nya terkait pengelolaan SMK yang harus sesuai dengan harapan industri. Namun, pihak kita juga secara tidak langsung melakukan evaluasi pembelajaran,” tuturnya. (cr1/fat)










