Kudus  

Karnaval Diwarnai Teaterikal Angkara Murka

MERIAH: Salah satu penampilan teatrikal yang ditunjukkan pelajar SD 1 Gondosari saat mengikuti karnaval dalam rangka menyemarakkan HUT RI ke-77, akhir pekan kemarin. (SYAMSUL HADI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Tidak hanya arak-arakan pada umumnya, SD 1 Gondosari menggelar karnaval berbudaya yang disisipi pertunjukan teaterikal bertajuk Angkara Murka, akhir pekan lalu. Hal ini dilakukan, untuk menyemarakkan HUT RI ke-77.

Kepala SD 1 Gondosari Khambali menyampaikan, karnaval yang sudah digelar ketiga kalinya ini merupakan yang paling meriah. Dengan jumlah 12 kontingen dan sebanyak 500 peserta ini, melibatkan dewan komite sekolah, guru, staff, para alumni lama dan baru, dan seluruh siswa siswi SD tersebut.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pembelajaran kepada anak-anak. Kalau kita punya banyak ragam budaya. Dengan memakai berbagai macam pakaian budaya ini, kami mengenalkan ke mereka agar mengetahui bangsa kita memiliki beragam budaya,” ucapnya.

Pihaknya berharap, gelaran ini bisa berkelanjutan. Sebab agenda seperti ini dapat menciptakan suasana yang humanis, harmonis, serta menumbuhkan rasa nasionalisme bagi peserta maupun masyarakat yang mengapresiasi.

“Harapannya dapat terjalin silaturahmi antara sekolah dengan semua pihak yang terlibat maupun masyarakat. Sekaligus, dapat melestarikan budaya dan membentuk karakter peserta didik melalui kebudayaan,” pungkasnya.

Sementara itu, praktisi seni yang ditunjuk sebagai Art Director, Arfin Ahmad Maulana menjelaskan, selama durasi 30 menit arak-arakan menampilkan sebanyak tujuh pertunjukan. Diantaranya, marching band, fashion show dari murid kelas 1-6 SD tersebut. Serta, yang utama pertunjukan teaterikal drama Angkara Murka.

“Karnaval kali ini bersepakat kebudayaan. Jadi kami mengangkat semua potensi nusantara melalui kostum adat yang dikenakan peserta. Kemudian, mengangkat potensi lokal menggunakan Barongan Muria,” jelasnya.

Dalam pertunjukan tersebut, lanjutnya, ada sosok Kanjeng Sunan Muria mengisahkan cerita yang masih mendominasi hingga sekarang. “Yakni tentang keangkaramurkaan dari bhetarakala atau sosok penguasa hitam yang mulai resah. Karena, melihat manusia sudah menyerupai dirinya,” paparnya. (sam/fat)