Batang  

Batik Rifaiyah, Budaya yang Tercatat Dunia

MENILAI: Beberapa warga terlihat sedang mengamati Batik Rifaiyah pada pagelaran festival batik di Desa Kalipucang, belum lama ini. (HUMAS/JOGLO JATENG)

BATANG, Joglo Jateng – Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional, Desa Kalipucang Wetan menggelar festival untuk memperkenalkan Batik Rifaiyah. Batik khas Kabupaten Batang itu tersebut masuk ke dalam warisan budaya Indonesia yang diakui oleh UNESCO.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Batang, Willopo mengatakan, batik memang identik dengan Indonesia, tetapi tidak menutup kemungkinan negara lain juga membuat batik seperti Malaysia dan Vietnam. Oleh sebab itu, agar tidak memudarkan batik sebagai salah satu budaya Indonesia, maka harus tetap dijaga. Seperti yang tercatat di dunia saat ini satu-satunya adalah batik tulisnya.

“Batik Rifaiyah sendiri dibuat dengan cara ditulis secara tradisional menggunakan canting. Pembatikan diawali dengan membuat motif, corak, hingga pewarnaan yang memerlukan proses cukup lama,” terangnya, Senin (10/10) malam.

Proses pembuatan batik ini sebagai media untuk syiar agama Islam pada zaman dahulu. Ada ritual yang biasa dijalankan sebelum membatik, yakni dengan salat Duha terlebih dahulu. Pengrajin juga harus membaca syair kidung berbahasa Jawa berisi ajaran Islam saat menorehkan malam ke selembar batik.

“Ciri khas batik Rifaiyah tiga negeri, yakni larangan penggambaran motif hewan secara utuh pada lembaran kain. Alasannya, mereka meyakini menggambar makhluk hidup itu berdosa,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Kalipucang Wetan, Mundakir menambahkan, adapun proses pembuatannya membutuhkan waktu minimal tiga minggu hingga enam bulan untuk sehelai kain. Atas kerja keras pembatik, kain batik Rifaiyah termurah dihargai  Rp350 ribu, itu pun untuk batik kasar.

“Untuk batik sedang mencapai Rp4 juta, batik halus dijual Rp6,5 juta. Pemasarannya sudah dilakukan di berbagai negara, mulai dari Indonesia, Singapura, Malaysia, India, Korea, Jepang, Yunani, Amerika dan Swedia,” tuturnya.

Menurut dia, batik Rifaiyah murni merupakan batik tulis. Warga tidak mau mengubahnya menggunakan mesin karena demi mempertahankan tradisi, sehingga hanya melayani pesanan terbatas. (hms/abd)