Daya Beli Turun saat Harga Bahan Pokok Melonjak

TUNGGU: Setyoningsih saat menjajakan dagangan di lapaknya Pasar Karang Ayu Kota Semarang, Senin (17/10). (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Harga bahan pokok mengalami kenaikan satu bulan terakhir. Tak terkecuali harga beras dan telur di Pasar Karang Ayu Kota Semarang.

Salah satu pedagang sembako Budi (58) mengatakan, harga beras mengalami kenaikan kisaran Rp 500 hingga Rp 1.000. Ia mengaku kenaikan terjadi sejak September lalu hingga kini, harga beras per kilonya rata-rata menjadi Rp 12.500.

“Harga beras naik, satu karungnya naik rata-rata Rp 10 ribu. Kalau satu kilo naik Rp 500 nyampe Rp 1.000,” ujarnya, Senin (17/10).

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa harga telur juga naik. Harga per kilogramya naik sekitar Rp 1.000 dan per petinya (10 kilogram) naik kisaran Rp 7.000. Kini harga yang ia jual per kilogramnya menjadi Rp 27.000. Sedangkan per petinya seharga Rp 245.000.

Akibat kenaikan harga bahan pangan ini, ia mengaku bahwa penjualannya menjadi sepi. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh harga BBM yang naik sejak sebulan lalu. “Kalau naik gini ya pembelinya jadi sepi. Sebelumnya yang beli 2 atau 3 kilo ini jadi 1 kilo karena harganya naik,” lanjut Budi.

Pedagang sembako lainnya Setyoningsih (43), juga mengeluhkan kenaikan harga yang berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat. Bahkan pedagang asal Puspogiwang Kecamatan Semarang Barat ini mengaku sering mendapatkan protes dari pembeli lantaran harganya naik.

“Daya beli jadi menurun dan penjualan di sini juga berkurang. Itu sejak BBM naik, ongkos transportasi kirim barang juga naik. Harga-harga juga naik,” katanya.

Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan dan Stabilisasi Harga Dinas Perdagangan Kota Semarang, Sugeng Dilianto, mengklaim bahwa kenaikan harga sembako tidaklah signifikan. “Kenaikan tidak terlalu signifikan, paling ya sekitar Rp 100, 200, paling tinggi 300 rupiah gitu,” katanya saat dikonfirmasi, Senin (17/10).

Meski begitu, ia membenarkan jika daya beli masyarakat menurun lantaran harga sembako naik. Peesoalan ini terjadi imbas kebijakan kenaikan harga BBM sejak awal September lalu.

“Karena kenaikan harga BBM daya beli masyarakat akan kebutuhan pkok lebih sedikit, karena mereka harus membaginya dengan BBM. Tadinya beli telur seminggu 2 kilo jadi setengah kilo,” kata Sugeng. (luk/gih)