Mengulik Kisah Perjuangan Pengusaha Minuman Serbuk Marimas

CEO PT Marimas Putera Kencana, Harjanto Kusuma Halim
CEO PT Marimas Putera Kencana, Harjanto Kusuma Halim. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

MEMBANGUN perusahaan yang dirintis dari nol memang tidaklah mudah. Banyak pengorbanan yang harus dilalui sehingga suatu produk bisa dikenal oleh banyak kalangan. Hal itu yang dirasakan oleh CEO PT Marimas Putera Kencana, Harjanto Kusuma Halim (58) yang mulai mendirikan perusahaan minuman serbuk Marimas sejak 1995.

Pria kelahiran 1965 ini sempat berkuliah S1 dan S2 di Negeri Paman Sam. Tepatnya di University of California, Davis dengan mengambil jurusan Teknologi Pangan. Ia juga sempat menjadi dosen di Unika Semarang.

“Saya pulang dari Amerika kuliah tahun 1990. Jadi saya 5 tahun mencari kerja luar, membantu orang tua. Jadi agen bumbu masak, air mineral, dan juga bikin snack, dan sebagainya. Akhirnya di tahun 1995 kepikiran bikin Marimas,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng, belum lama ini.

Ia mendapat ide setelah melihat sirup botol yang saat itu sering dikerubungi semut di rumah. Selain itu jika ingin membeli harus tukar botol terlebih dahulu ke warung. Hal itu menurutnya kurang efisien.

Baca juga:  Sinoeng Mantap Pensiun Dini, Bima Ajukan Cuti

“Dan juga minuman sachet itu hanya ada di supermarket. Nah kalau saya (Marimas, Red.) ini ke pasar jadi itu sangat membantu sekali. Hal yang simpel itu berangkat dari yang simpel dan itu saya terjun langsung ke pasar. Jadi kamu harus terjun langsung agar dapat ide. Harus capek, kotor, stres. Itu bagian yang harus dilalui,” jelasnya.

Dirinya mengaku, modal awal dalam membangun perusahaan kecil waktu itu dibawah Rp 100 juta. Pembelian mesinnya pun berasal dari dalam negeri.

Awal produksi Marimas dimulai dari gudang kecil milik papanya di rumah. Dalam menjalani proses itu, dirinya memberanikan diri merangkap berbagai macam jabatan. Mulai dari CEO, produksi, marketing, hingga HRD.

Baca juga:  Gubernur Nana Berharap Borobudur Marathon Jadi Event Kelas Dunia

“Kalau ada yang melamar ya saya wawancara kemudian saya door to door bawa toa, bagi-bagi sample saya alami semua. Saya tahu berproses seperti itu karena saya dulu turun tangan, saya umur 30 tahun awal usaha, jadi feeling-nya terasa,” kata dia.

Adapun varian rasa yang dirilis pada jaman 1995 mulai dari rasa jeruk segar, jeruk nipis, gula asem, sirsak, dan coco pandan. Dirinya memang ingin mengangkat rasa khas Indonesia itu.

Kendala yang pernah dialami Harjanto yaitu saat tahun 1998 terjadi krisis moneter (krismon) sehingga menyebabkan inflasi. Juga bertambahnya angka pengangguran, sampai kemiskinan.

“Jadi saya bawa gula aja diikuti polisi dikira itu menimbun,” terangnya.

Menurutnya, hal yang paling susah dalam mengelola perusahaan, yakni tidak adanya titik terang dalam menyelesaikan masalah. Hal itu ia alami selama pernah menjadi agen air mineral dan bisnis lainnya.

Baca juga:  Crazy Rich Grobogan Daftar Cagub lewat PSI

“Dan itu saya stres karena saya bawa pulang gelar S2. Makanya saya selalu sampaikan ke mahasiswa jangan sampai pendidikanmu menjadi dasi yang memberatkanmu sampai kamu gengsi dan lain-lain,” ujarnya.

Hingga saat ini, Marimas telah memiliki sebanyak 28 varian rasa minuman serbuk. Perusahaan Harjanto juga berkembang di bidang makanan lewat produk Mari Oppa, Jangkrik Mas, Kongbap, Rice Cracker, dan Chia.

Opportunity menurut saya banyak dan artinya kerja keras tidak mengkhianati hasil itu benar. Hal ini yang saya sampaikan bawah kerja keras itu perlu untuk generasi muda. Bukan penentu tapi harus. Tidak bisa santai, tapi (apakah, Red.) itu menjamin sukses? Tentu tidak,” pungkasnya. (int/adf)