KUDUS, Joglo Jateng – Tradisi menyambut datangnya Ramadan di Kabupaten Kudus sudah dimulai sejak 1 sampai 11 Maret. Tahun ini konsep agenda didesain dengan nuansa kebudayaan.
Hal tersebut menjadikan aktivitas yang tak lepas dari tradisi dandangan. Acara dimulai dengan mementaskan semua pertunjukan seni.
Kepala Disbudpar Kudus, Mutrikah menyampaikanm ada 17 kelompok seni yang akan ditampilkan. Seperti paguyuban barongan, seni musik, dan sanggar tari. Pementasannya setiap hari bergantian sesuai dengan urutan yang sudah dirapatkan.
“Tujuan menampilkan kelompok seni ini merupakan budaya kearifan lokal yang ada di Kudus. Tradisi dandangan yang di kemas dengan sedemikian rupa agar bisa digaungi masyarakat. Artinya bisa menjadi daya tarik masyarakat,” ujarnya.
Selama tiga tahun ini dandangan mengambil sebuah tema kebudayaan. Bedanya tahun ini menyertakan berbagai unsur berskala nasional. Harapannya dapat memberikan dampak kepada masyarakat Kudus secara keseluruhan.
“Kita coba untuk semua segmen masyarakat bisa menikmati. Ada beberapa tarian baru yang dibuat di desa wisata yang ada di Kudus. Kemudian kita tampilkan. Nah, dari situ diambilkan dari kearifan lokal Kudus. Seperti tari kreasi Pudir dan sebagainya,” jelasnya.
Pada kesempatan ini, semua kesenian yang ditampilkan adalah kreasi baru. Dia merasa ini waktu yang pas untuk menunjukkan karya anak-anak yang mereka punya. Sehingga pelestarian seni dan budaya di Kudus tidak punah.
“Kita eksplorasi sekaligus kita promosikan kepada masyarakat. Untuk itu, konsep dan pementasan seni kami serahkan kepada sanggar masing-masing. Mereka bebas mau menampilkan seni kreasi yang mereka mau dalam batasan waktu selama 30 menit,” tuturnya.
Sementara itu, Pembina sanggar Bougenville, Etik Dwi Aprili Yanti menjelaskan, persiapan yang dilakukannya hanya satu hari, dua kali latihan saja. Sebelumnya dia sudah sering latihan di sanggar setiap Jum’at pukul 15.30-17.30. Jadi, pada saat tampil di Dandangan dia sudah siap.
“Kami menampilkan tari kreasi baru. Yang mana tema besarnya disini adalah Tari kretek. Kemudian Tari profil pelajar Pancasila, tari rampak, dan tari sigrak. Kita bagi berdasarkan usia mulai TK sampai SMA,” ucap Etik.
Dia menambahkan, antusias anak-anak mengikuti luar biasa semangat. Apalagi setiap latihan mereka suka memiliki bakat menari. Selain itu juga untuk menguri-nguri kebudayaan dan bakti kepada masyarakat.
“Banyak anak-anak yang mengikuti latihan disanggar. Disini kami hanya bisa menampilkan 4 tari kreasi baru. Karena keterbatasan waktu sehingga kami hanya mengirimkan 33 peserta saja,” ungkapnya. (cr3/fat)










