Cetak Desainer Muda, SMK NU Banat Pamerkan 98 Look Busana

BANGGA: Siswi kelas XII SMK NU Banat saat menampilkan desain karyanya dihadapan orang tua dan mitra industri, belum lama ini. (UMI ZAKIATUN NAFIS/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Dikenal sebagai sekolah kejuruan yang unggul dalam desain tata busananya, SMK NU Banat kembali mencetak desainer-desainer muda yang bertalenta. Sebanyak 98 siswi kelas XII tersebut memamerkan 98 look bertema Suistanable Fashion yang dibalut nuansa kebudayaan. Mereka dibagi dalam 12 kelompok.

Kepala SMK NU Banat, Lilik Muflikah mengatakan, gelar karya ini menjadi bagian dari hasil uji kompetensi kelas XII untuk diperlihatkan kepada para orang tua dan mitra industri. Tema Suistanable Fashion merupakan konsep kecintaan pada lingkungan yang diwujudkan tidak hanya dalam kegiatan praktik hidup berkelanjutan saja. Tetapi juga dari cara berpakaian.

Selamat Idulfitri 2024

“Konsep ini dapat mengurangi dampak buruk pada lingkungan dan proses produksi pakaian. Kami meminimalisir limbah produksi fashion yang saat ini dengan menjadikannya sebagai dari aksesoris, tas, anting, dan lain-lain,” katanya.

Baca juga:  Launching Antologi Cerpen, Pemantik Siswa Terus Berkarya

Adapun 12 kelompok dengan masing-masing look yang diambil yaitu Gubang, Ko’e Ukir, Genta Arunika, The Relief of Diryah. Kemudian Pink Beach, Legit Padhang, La Lembah, Canthing, Tali Dhakon, Tabako, Sekaten, dan Manting.

“Dari tema besar, kita breakdown menjadi beberapa tema kebudayaan di Indonesia. Misalnya The Relief of Diryah mengangkat tradisi ruwatan yang dituangkan dengan siluet, warna, tekstur kain dengan style dramatic yet elegant,” jelas Lilik.

Kemudian, lanjutnya, Tali Dhakon mengangkat tema dari dua permainan tradisional Indonesia yaitu congklak dan lompat tali. Sementara itu Tabako busana casual yang terinspirasi dari tarian adat Kudus yaitu Tari Kretek.

Baca juga:  Gelar Doa Bersama untuk Persiapkan Siswa dalam ASPD di Akhir Ramadan

“Ada juga yang terinspirasi dari canting sebagai alat membatik dengan menerapkan siluet canting pada busana untuk memberikan kesan rapi dan elegan. Dan Mantingan yang terinspirasi dari Masjid Mantingan Jepara karakter bangunan corak garis-garis yang dituangkan dalam kain lurik,” sambungnya.

Pihaknya berharap, adanya gelar karya ini bisa menjembatani antara mitra industri yang ingin merekrut desainer-desainer muda dari SMK NU Banat. Sehingga sekolah benar-benar meluluskan generasi yang siap kerja dan berbakat di bidangnya.

“Pada gelar karya kami mengeluarkan tren yang nanti akan kita bawa ke pasar-pasar luas. Sehingga karya anak-anak ini tidak diragukan lagi kualitasnya,” harapnya.

Baca juga:  Musim Penghujan, Waspadai Penyakit Leptospirosis

Dalam momen yang sama, salah orang tua siswi SMK NU Banat, Hidaya Yuliati, mengaku bangga dengan keberhasilan putrinya. Dari awal dirinya melihat sang anak memang terampil di bidang tata busana.

“Saya selalu mengamati perkembangan anak-anak. Ketika saya arahkan di bagian seni dan dia enjoy maka itu akan menjadi jalan masa depannya. Saya harap anaknya nanti bisa membuka usaha di bidang fashion,” harapnya. (cr1/adf)