KUDUS, Joglo Jateng – Perbincangan munculnya Selat Muria menjadi santer di masyarakat semenjak bencana banjir yang terjadi di kawasan Demak, Kudus dan Semarang beberapa waktu terakhir. Anomali ini bahkan mengundang tanggapan berbagai pakar dan akademisi.
Termasuk salah satunya peneliti dan Dosen Sejarah Institut Agama Islam negeri (IAIN) Kudus, Moh Rosyid. Ia berpendapat Selat Muria tidak akan muncul kembali hanya karena imbas banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Demak, Jawa Tengah dan sekitarnya.
“Secara geologis tidak usah khawatir Demak dan sekitarnya akan jadi laut lagi karena banjir yang berulang ini membawa sedimen yang membentuk dataran. Dan untuk menjadi Selat Muria butuh proses alami yang panjang,” ujarnya.
Rosyid menceritakan, Gunung Muria sebelumnya merupakan pulau yang terpisah dari Pulau Jawa. Pada periode sebelum abad ke-17, kedua pulau dipisahkan oleh sebuah selat.
Terdapat kota-kota tua seperti Demak, Jepara, Kudus, Pati, Juwana, dan Rembang merupakan pelabuhan-pelabuhan utama yang penting di sepanjang wilayah pesisir utara. Selat Muria yang memisahkan Jawa dan Muria.
“Dan Sungai Lusi yang ada di Kabupaten Grobogan bermuara ke Selat Muria yang sangat dangkal sepanjang Demak, Pati, dan Juwana yang memisahkan Jawa dan Muria,” katanya.
Senada, Pengamat Sejarah, Agus Susanto, menjelaskan, Selat Muria merupakan wilayah perairan yang memisahkan pulau vulkanik Gunung Muria dengan Pegunungan Kendeng di Pulau Jawa. Selat ini bentuknya memanjang dari timur ke barat.
“Sementara letaknya berada di sepanjang wilayah yang kini dikenal sebagai Demak, Kudus, Pati, dan Rembang. Dan wilayah ini diduga masih berupa perairan yang dilewati kapal hingga abad ke-16,” jelasnya saat ditemui Joglo Jateng.
Selat Muria Dulunya Jalur Perdagangan
Pada masa itu, lanjut Agus, kerajaan Islam di Jawa memanfaatkan selat ini sebagai jalur perdagangan dan transportasi laut. Selat Muria menjadi jalur pintas untuk mengangkut barang dagang dari Semarang menuju Rembang maupun sebaliknya. Berkat keberadaan selat ini, para pedagang zaman dahulu tak perlu memutar hingga pelabuhan Jepara di Pulau Muria untuk ke Semarang atau Rembang.
Kondisi pasang surut Selat Muria terus terjadi selama berabad-abad. Namun, sejak memasuki abad ke-16, wilayah Selat Muria tak lagi digunakan untuk transportasi air lantaran sudah semakin surut.
Disadur dari Serat Centhini, Agus menjelaskan, Selat Muria yang surut menjadi perairan payau dan rawa-rawa. Meskipun kapal niaga sudah tak bisa melintas sejak abad ke-16, wilayah Demak dipercaya masih berupa perairan dangkal dan rawa-rawa hingga tahun 1800-an (abad ke-19).
Penyebab hilangnya Selat Muria, ia memperkirakan dipengaruhi pergeseran Sesar Muria dan Sesar Kendeng. Selain itu, ada kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda menutup aliran air yang harusnya bermuara ke selat. Aliran air dibendung dengan Bendungan Seloromo dan Bendungan Gunungrowo yang berada di Kecamatan Gembong.
“Air tersebut digunakan untuk mengairi sawah dan kebun milik pemerintah kolonial Hindia Belanda, sehingga debit air yang berada di Selat Muria berkurang,” imbuhnya.
Menurut catatan, kata dia, muara sungai besar di Jawa ada yang menuju ke Selat Muria. Lalu ada pula catatan yang menyebut penggalian terusan, sehingga mengindikasi bahwa Selat Muria menyempit, tak bisa lagi dilintasi kapal besar, hanya bisa dilintasi kapal kecil dengan waktu tempuh 2 sampai 3 hari,
Adapun bukti sejarah adanya Selat Muria bisa ditemukan di Museum Patiayam. Di sana terdapat fosil molusca, penyu, kura-kura. Sementara di Pegunungan Kendeng kerap kali ditemukan fosil kerang, padahal Pegunungan Kendeng jauh dari laut.
“Di wilayah Kudus tepatnya Eks Matahari saat ini dulunya juga diduga merupakan bekas dermaga. Sementara di wilayah bukit Wonosoco ditemukan pasir. Beberapa data ini cukup membuktikan adanya Selat Muria di masa lampau,” ujarnya.
Sedangkan di wilayah Demak, ada temuan cerita pada masa kepemimpinan Raden Patah, keadaan geografis Demak berada di pesisir. Yaitu saat Raden Patah sedang melakukan penyeberangan perairan melalui rawa-rawa menuju pulau-pulau kecil di wilayah tersebut. Namun, perairan yang dilaluinya tak seluas laut pada umumnya, karena medan perairan hanya mampu dilalui kapal kecil saat berlayar.
“Kerajaan Demak pada masanya dikenal sebagai kerjaan maritim, padahal saat ini Demak lokasinya tidak berada di pesisir laut. Kendati demikian, ternyata sistem kerajaan maritim pada masanya ditinjau berdasarkan tempatnya yang berada di pinggir Selat Muria,” jelasnya.
Selat Muria Bisa Muncul Bisa Hilang
Agus menekankan, Selat Muria tidak akan muncul lagi karena proses geologi. Yaitu erosi lajur perbukitan Kendeng dan Rembang yang melewati jejaring Sungai Tuntang, Sungai Serang, dan Sungai Juwana masih terus berlangsung. Di satu sisi kondisi tersebut membawa sedimen yang cukup tinggi dan menyebabkan pendangkalan di Selat Muria. Hal itu berdampak secara geologis. Yaitu pemadatan lahan untuk pendirian bangunan serta penggunaan air tanah membuat tanah menjadi kompak, padat, dan agak turun
Akan tetapi di sisi lain, pergeseran Sesar Muria dan Sesar Kendeng berpotensi memunculkan kembali Selat Muria dikarenakan daerah setempat seringkali mengalami penurunan permukaan yang mengakibatkan rawan terjadi genangan banjir.
“Selat Muria tidak kembali, tetapi sisa genangan dan aliran sungai buatan akan tetap mengembalikan air di daerah rentan banjir. Terlebih di tengah meningkatnya bencana hidrometeorologis yang terjadi selama musim hujan saat ini,” tegasnya.
Jaga Alam Adalah Solusi
Agus menegaskan, saat ini bukan waktunya untuk fokus pada validasi keberadaan Selat Muria. Akan tetapi semua pihak harus gotong royong untuk tetap menjaga alam. Sebagai tempat tinggal sekaligus pemberi kehidupan.
“Pembangunan area Demak dan sekitarnya dari awal memang tidak didesain untuk wilayah pemukiman, tetapi sebagai transportasi dan pertanian. Sehingga seperti sudah menjadi risiko bagi warga setempat ketika banjir tiba setiap musimnya,” tandasnya.
Akan tetapi, menurut Agus, risiko tersebut tentu bisa diminimalisir dari hulu maupun hilir. Sebab selama ini wilayah Hutan Muria khususnya Pati Ayam tidak memiliki tanaman yang kuat menahan air. Banyak hutan yang dulunya ditebang liar sehingga kekosongannya dimanfaatkan masyarakat untuk menanam tanaman semusim bahkan didirikan pemukiman.
“Hulu harus kita perbaiki melalui penanaman kembali tanaman yang kuat menahan air. Dan hilir kita perbaiki melalui normalisasi, tata kelola bendungan hingga penguatan tanggul menggunakan beton. Sehingga upaya meminimalisir kejadian bencana banjir bisa dimaksimalkan bersama-sama baik pemerintah maupun masyarakat harus kompak,” tegasnya. (cr1/cr3/fat)










