KUDUS, Joglo Jateng – Berkaitan dengan harmonisasi kehidupan beragama, saat ini Kabupaten Kudus dikenal dengan miniatur Indonesia. Terlebih lagi Kudus memiliki masyarakat dengan enam agama yang berbeda. Diantaranya Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu dan Konghuchu.
Demikian itu dikemukakan, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Kudus, Mochammad Fitriyanto, dalam sosialisasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Pada kegiatan tersebut mengangkat tema peningkatan peran dan fungsi FKUB dalam rangka menjaga harmonisasi kebangsaan.
“Meski di Kudus terdapat berbagai macam agama dan kebudayaan yang berbeda, namun semua adalah bagian dari keluarga besar Pemerintah Kudus,” ujarnya.
Oleh sebab itu, pihaknya selalu menekankan sikap toleransi dan saling menghargai antar umat beragama. Dengan kerukunan antar umat beragama yang terjalin secara harmonis, diharapkan terbentuk sinergitas bersama.
“Sehingga masyarakat dapat menjadi mitra pemerintah dalam membangun dan menjadi pelopor pemersatu bangsa. Serta mampu menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapi di Kudus,” imbuhnya.
Tak hanya perbedaan agama, lanjut Fitriyanto, juga banyak penghayat aliran kepercayaan masyarakat yang saling bersinergi dan berdampingan secara rukun. Sehingga pelaksanaan kegiatan keagamaan pun saling mendukung satu sama lain,” ujarnya.

Pihaknya pun mengajak para pemuka agama untuk bersama-sama menciptakan kondusivitas apapun keberadaanya. Khsususnya menciptakan kembali suasana aman dan damai dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) nantinya.
“Guna menjaga kerukunan dan toleransi kami sampaikan pada peserta agar bisa mewakili seluruh elemen keberadaan agama di Kudus. Baik PCNU, PD Muhammadiyah, LDII, Walubi, IMM, PHDI, dan seluruh Pemuda Katolik Kristen Budha Hindu Matakhin,” katanya.
Forum yang dibentuk masyarakat dan difasilitasi pemerintah ini diharapkan bisa membangun dan memberdayakan umat beragama. Termasuk berfungsi menjaga harmonisasi dan kebangsaan.
“FKUB harus tampil garda terdepan mengedukasi masyarakat. Sekaligus memperkuat komitmen toleransi kebangsaan seluruh elemen,” tuturnya.
Menurutnya, menghargai tradisi lokal yang beragam menciptakan kekuatan toleransi. Perbedaan yang dimiliki bangsa justru jadi modal utama.
“Kami titip agar bergandeng tangan menjaga dan merawat kebinekaan serra bersatu padu untuk Kudus aman dan kondusif. Sehingga seluruh kegiatan masyarakat berjalan baik,” harapnya. (cr1/fat)










