Kudus  

Hari Lingkungan Hidup, 500 Rumput Vetiver Ditanam Guna Cegah Longsor

AKSI: Penanaman 500 rumput vetiver sebagai upaya mitigasi bencana longsor di Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus, Rabu (5/6/2024). (UMI ZAKIATUN NAFIS/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day, jajaran Pemerintah Desa Menawan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Yayasan Konservasi Alam Nusanyara (Ykan) melakukan penanaman 500 rumput vetiver atau akar wangi secara serentak di kawasan Muria. Gerakan ini dilakukan sebagai upaya mitigasi bencana longsor di titik rawan khususnya di Kebun Kawis, Kambangan, Menawan. Dan desa lainnya yaitu Japan, Ternadi, Colo, Gondoharum dan Rahtawu.

Kepala Cabang Dinas ESDM Wilayah Muria, Dwi Suryono, menyebutkan, kawasan Muria menjadi salah satu lokasi rawan longsor. Dengan kondisi banyak lereng yang masih gundul, sehingga penting dilakukan penanaman rumput vetiver untuk mitigasi gerakan tanah.

“Tanah lereng ini masih banyak dihuni oleh warga. Sehingga jika tidak dilakukan penanaman akan membahayakan saat musim penghujan sebab air tidak memiliki ruang untuk mengalir,” ujarnya saat momen sharing bersama pegiat lingkungan muria, Rabu, (05/06/2024).

Ia menjelaskan, tanaman vetiver mempunyai banyak manfaat bagi lingkungan hidup. Diantaranya daunnya menyerap karbon, sebagai pakan ternak, dapat mengusir hama dan bahan atap rumah, serta bahan dasar kertas.

Baca juga:  Partai PPP Kudus Mulai Kerucutkan Kandidat Cabup Cawabup

Sementara akarnya bermanfaat mencegah longsor dan banjir, melindungi infrastruktur, memperbaiki kualitas air, menyerap racun, dan menyuburkan tanah.

“Fungsi mencegah longsor dan banjir ini menarik, sehingga digalakkan untuk ditanam, tentu selain memiliki beragam fungsi lain,” katanya.

Ia menjelaskan, akar vetiver mampu mengikat tanah. Karena bisa panjang dan melebar, akarnya seperti kawat dengan panjang hingga empat meter.

“Bahkan, akar juga masuk ke dalam tanah dan mudah tumbuh. Ini salah satu keunggulan lainnya,” jelasnya.

Sayangnya, lanjut dia, masih banyak masyarakat yang abai dengan gerakan menanam tanaman ini. Banyak yang beranggapan tanaman vetiver tidak menghasilkan ekonomi.

“Gerakan ini kan untuk keselamatan warga sendiri. Karena mereka bertempat tinggal di lokasi rawan longsor. Sehingga ini perlu upaya bersama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat,” tandasnya.

Baca juga:  Pasar Loak di Kudus Terbakar

Sementara itu, Koordinator Penyuluh Kecamatan Gebog, M Ali Hamidy Eko, menilai, tanaman vetiver di samping mencegah erosi juga memiliki manfaat sebagai penghasil minyak atsiri. Ia berpendapat, untuk menarik ketertarikan masyarakat menanam vetiver perlu dipadupadankan dengan tanaman bernilai ekonomi.

“Misalnya ditambah dengan tanaman lain. Seperti bibit jeruk atau lainnya dengan harapan masyarakat tertarik dan sadar untuk menanam vetiver di kawasan rumahnya,” ujarnya.

Stakeholder Manager Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Rudi Zapariza, menyebutkan, di momen hari lingkungan hidup ini para stakeholder melakukan sharing bersama dengan fokus lokasi desa sekitar muria. Ia menilai banyak persoalan lingkungan yang ada di Kabupaten Kudus. Baik dari sisi banjir, sedimentasi, rehabilitasi hingga DAS.

“Masalah lingkungan tersebut kami coba lakukan pendampingan dan sharing bersama dengan tujuan menjaga lingkungan muria,” tandasnya.

Dikatakannya, YKAN sebagai organisasi yang fokus mewujudkan Indonesia yang lestari, menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam untuk generasi sekarang dan yang akan datang memiliki program di lokasi binaan termasuk enam Desa di kawasan Muria. Yaitu Menawan, Japan, Ternadi, Colo, Gondoharum dan Rahtawu.

Baca juga:  Swadaya Masyarakat, Desa Ngembal Kulon Buat Jalan Baru

“YKAN melakukan pendekatan berbasis komunitas bernama Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan atau SIGAP. Baik itu terkait pengelolaan sampah, rehabilitasi, maupun pariwisata,” kata Rudi

Pada kesempatan yang sama, Kepala Desa Menawan, Tri Lestari, mengapresiasi semangat para tim yang berkenan hadir di even Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang juga merupakan rangkaian Menawan Mantu.

“Aksi hari ini tidak hanya penanaman Akar Wangi di Kebon Kawis Kambangan, tetapi juga ada pameran kisah konservasi muria dan njagong gayeng konservasi,” ungkapnya.

Pihaknya berharap, momen ini menjadi ruang silaturahmi dan sinergi menjaga muria bersama agar muria hijau kembali. Tri berharap, sinergi ini terus berlanjut dan bisa jadi rekomendasi terutama bagi desa yang mengalami kontur kebencanaan yang sama. (cr1/fat)