KUDUS, Joglo Jateng – Pemerintah Desa (Pemdes) Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus meluncurkan program inovatif bernama Rebo Wage Keliling (Bogeling). Inovasi ini untuk mendekatkan diri dengan masyarakat dan mendengarkan langsung keluhan serta harapan warga.
Program ini melibatkan kunjungan langsung ke setiap dukuh. Pihak desa memastikan bahwa pemerintah desa dapat menangkap aspirasi dan kebutuhan masyarakat secara lebih akurat.
Kepala Desa Rahtawu, Didik Ariyadi menjelaskan, program Bogeling dimulai dengan mengunjungi masyarakat berbagai dukuh dan dijadwalkan selesai pada Juli ini. Melalui kunjungan ini, pihaknya dapat berinteraksi langsung dengan warga, mendengar keluhan mereka, dan memahami harapan yang mereka miliki untuk perkembangan desa.
“Program ini bertujuan untuk memberikan suara kepada semua lapisan masyarakat. Bukan hanya tokoh-tokoh masyarakat tertentu seperti yang biasa terjadi dalam musyawarah desa (musdes),” ujarnya belum lama ini.
Dia menambahkan, jika melalui musdes, hanya tokoh-tokoh masyarakat tertentu yang diundang. Pihaknya tidak pernah mengetahui apakah pemikiran mereka sejalan dengan harapan masyarakat luas. Dengan Bogeling, dia bisa memastikan bahwa setiap suara didengar dan diakomodasi.
“Setiap tahun, Pemerintah Desa Rahtawu menganggarkan dana khusus untuk program ini. Hal ini menunjukkan komitmen kita untuk terus mendengar dan menanggapi kebutuhan warganya,” tuturnya.
Didik menambahkan, tujuan utama dari Bogeling adalah memastikan bahwa setiap permasalahan di desa dapat diidentifikasi dan diperbaiki. Sehingga desa bisa menjadi lebih mandiri dan sejahtera.
“Program ini telah mendapat respon positif dari masyarakat. Warga merasa dihargai dan didengarkan secara langsung oleh pemerintah desa. Mereka dapat mengungkapkan masalah-masalah yang dihadapi serta memberikan masukan yang konstruktif untuk pembangunan desa,” paparnya.
Dia berharap dapat menciptakan lingkungan yang lebih transparan dan partisipatif. Setiap warga memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam proses pengambilan keputusan, sehingga pembangunan desa dapat berjalan sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat.
“Dengan mendengarkan langsung aspirasi warga, diharapkan desa ini dapat terus berkembang dan mencapai kemandirian yang diimpikan,” pungkasnya. (cr3/fat)










