Kudus  

Tak Hanya Angkut Sampah, Warga Desa Ini Ubah Limbah Jadi Uang Lewat Paving

MEMILAH: Petugas pengelola sampah di TPS 3R padurekso, Desa Loram Kulon, belum lama ini. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Pemerintah Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, terus berupaya menuju kemandirian dalam penanganan sampah. Hal itu dilakukan melalui Kelompok Pengelola Persampahan (KPP) Padurekso.

Desa ini menjadi salah satu dari sedikit desa di wilayah tersebut yang memiliki Tempat Pengolahan Akhir (TPA) sendiri yang terletak di kawasan TPS 3R Padurekso. Namun, perjalanan menuju desa mandiri sampah tidak lepas dari berbagai tantangan yang signifikan.

KPP Padurekso yang sudah berjalan selama dua tahun terakhir berdiri di atas tanah khas desa dan aktif setiap hari dalam upaya mengangkut serta mengelola sampah dari masyarakat. Setiap hari, setidaknya ada 12 becak motor (bentor) yang digunakan untuk mengangkut sampah rumah tangga dari berbagai sudut desa.

“Kami setiap hari mengutamakan agar seluruh sampah yang ada bisa terangkut. Target utama kami, jangan sampai ada sampah yang tertinggal,” ujar Maskur, pengurus KPP Padurekso, saat ditemui.

Namun, ia mengakui bahwa tantangan terbesar adalah volume sampah yang terus meningkat dari hari ke hari. Jika tidak ditangani segera, akan menajadi bermasalah. Sebab, sampah semakin hari semakin menumpuk.

Berbagai metode telah dicoba untuk mengurangi beban sampah di desa tersebut. Salah satunya adalah pendirian bank sampah yang sempat berjalan selama enam bulan. Namun, hasilnya dianggap belum efektif.

“Bank sampah sudah kami jalankan berkali-kali, tapi hanya berjalan enam bulan. Karena pengurangan sampahnya sangat sedikit,” jelasnya.